Betapa Sesuap Nasi itu tak selalu gampang direngkuh

GUBRAK!! PRANG!!!!!!!… Suara berisik itu mengusik kekhusyu’an doa kami setelah sholat shubuh berjamaah. Di mushola tinggal Ibu Alfian, Lili dan aku.

”suara apa itu” tanya ibu sambil bangkit dan mengambil kunci pintu depan.

Aku dan Lili saling bertatapan dan menduga-duga

”sepertinya suara rak piring jatuh” dugaanku

Lalu kami bertiga keluar dan ternyata diluar pagar….

”ada apa pak?” tanya Ibu pada seorang bapak paruh baya

”gerobaknya terjungkal bu, bannya masuk lubang” jelas sang bapak yang ternyata berprofesi sebagai penjual nasi kucing/angkringan

”ya Allah, ini lubang gorong-gorong air yang tutupnya sudah raib…” kata Ibu menyelidik.

Di zaman ini, tutup gorong-gorong air pun begitu menggoda untuk diambil paksa, sudah seberapa parahkah tingkat kemiskinan bangsa ini??.. Dimana aplikasi UUD yang menyatakan bahwa ’orang miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara’. Malah yang terlihat fenomena pendididikan tak langsung dari negara agar warga negaranya mengoptimalkan kreatifitasnya demi mempertahankan hidup dengan menghalalkan segala cara demi kebutuhan perut yang susah dikompromi.

”bapak baru mau jualan ato sudah pulang?” tanya Ibu

Aku dan Lili masuk ke dalam mengambil sesuatu yang bisa digunakan sebagai tanda bahaya, aku ambil kertas, lakban dan spidol. Lili mengambil rak kecil bekas parcel lebaran.

”ada apa mbak?” tanya Dewo’ yang ternyata juga mendengar suara berisik tadi, diikuti Kiki dan Fitri, personil kos Jasmine lainnya, kos-an putri muslim yang berada sekitar 500 m ke selatan dari kampus.

”itu, ada bapak angkringan yang gerobaknya terjungkal coz bannya masuk lubang gorong-gorong air” jelasku sambil menuju depan.

Alhamdulillah gerobak itu sudah dibangunkan lagi, dibantu seorang bapak bersepeda motor yang lewat. Jadilah kami beraksi membuat tanda peringatan bahaya ’AWAS! ADA LUBANG!’ sambil menemani bapak angkringan membereskan gerobaknya.

”ada yang pecah pak?” tanya kukhawatir sambil terus berkarya.

”ada mba, piring dan gelas sebagian pada pecah” jawabnya.

Paras kelelahan dengan mata sayu terpancar dari wajah sang bapak. Kerasnya tempaan hidup yang dijalaninya tergambar jelas dari raut mukanya dan tangannya yang kekar dan terlihat kuat.

”soalnya tadi saya agak ngantuk mba, jadi nggak lihat ada lubang” jelas sang bapak lagi

”wajar kok pak, lagian ini kan masih pagi, masih gelap” tanggapanku.

”makasih ya bu, mbak..saya pergi dulu”

”Mari pak, maaf kami nggak bisa banyak membantu” jawab kami bareng sambil menatap kepergian beliau, seorang kepala keluarga yang rela berkorban apa saja demi menjaga agar dapurnya tetap mengebul dan anak-anaknya tetap bisa sekolah.

”ada apa nih mbak, rame-rame?” suara bu Pur tetangga depan rumah.

“tadi ada gerobak angkringan yang terjungkal bu” jawab kami

Melihat kondisi jalan yang basah bekas tumpahan air dan es batu berceceran serta lubang menganga, sepertinya bu Pur mengerti apa yang telah terjadi.

”memang ya pencuri itu keterlaluan sekali!” geram bu Pur

“Bentar-bentar… tadi pagi sekitar jam 2 saya dengar suara keras banget, apa pas pencurinya lagi mencongkel tutup gorong-gorong ini ya?.. saya kira anak kos putra itu, habis mereka biasanya memang pulang pagi-pagi” lanjut beliau panjang kali lebar.

Kami manggut-manggut. Tidak lama kemudian Bu RT datang, dengan semangat 45 bu Pur menceritakan kejadian tadi dengan detail.

”wah ini bahaya sekali kalau tidak ditutup lagi” komentar bu RT

”iya bu makanya kami kasih tanda bahaya ini.”

”harus cepat lapor nih, supaya segera ditutup, khawatirnya ada yang ngebut dan nerobos lubang ini kan ngeri juga ya” sambung bu RT lagi.

Sang surya mulai nampak dengan malu-malu. Sinarnya membantu kami melihat ke dalam lubang gorong-gorong itu yang ternyata cukup dalam juga dan… ada uang receh di sana, mungkin uang bapak angkringan tadi yang jatuh… Allah Maha Adil pasti punya rencana khusus untuk bapak tadi dan Allah yakin bapak itu bisa melalui ujian ini. suara hatiku. Amin.

–Jasmine in memory, Yogya 07/11/2008–

Iklan