Menuju Puncak Cita

Bagaimana Jepang bisa menjadi negara sangat maju dengan keterbatasan sumber daya alam?? Mungkin alam mereka memang tidak sesubur, tidak semelimpah negara kita, negara zamrud khatulistiwa, namun sumber daya manusia mereka sungguh luar biasa.
Berikut ini adalah contoh sebagaimana yang diceritakan oleh doktor Taufik al-Wa’I hafizhahullahu. Ia mengatakan, ”pemerintah Jepang pada awal kebangkitannya mengirim sebuah delegasi pelajar ke Jerman. Demikian pula yang dilakukan oleh bangsa Arab. Hanya bedanya, delegasi Jepang pulang dengan membawa sesuatu yang dapat dipersembahkan bagi kemajuan bangsanya, sementara delegasi Arab pulang dengan tangan kosong. Apa sebabnya? Simak kisah berikut ini, kita akan tahu jawabannya.
Seorang mahasiswa berkebangsaan Jepang bernama Osahara yang dikirim oleh negaranya untuk melakukan studi di Jerman bercerita, “Seandainya aku mengikuti pesan-pesan dosenku warga Jerman tempat di mana aku dikirim untuk meneruskan studi di Universitas Hamburg, niscaya aku tidak mendapatkan apa-apa. Aku dikirim oleh pemerintahku untuk mempelajari dasar-dasar mekanika ilmiah. Aku memang ingin sekali mempelajarinya. Aku ingin tahu bagaimana bisa membuat sebuah motor kecil. Aku tahu setiap karya itu memiliki apa yang disebut model yang menjadi dasar semua karya.

Jika Anda ingin mengetahui bagaimana sebuah karya dibuat, Anda harus MENGUASAI semua rahasianya. Demi efisiensi, dosen-dosenku tidak membawa aku ke sebuah pabrik atau pusat latihan kerja, tetapi cukup memberiku sebuah buku untuk aku baca. Aku baca dan aku pelajari buku tersebut dengan TEKUN, sampai akhirnya aku berhasil mengetahui semua teorinya. Tetapi selain itu aku juga sering MEMPERHATIKAN sebuah motor, seakan-akan aku sedang mengisi sebuah teka-teki.
Pada suatu hari aku membaca iklan yang menawarkan motor-motor buatan Itali. Dengan membawa uang gajiku dari pemerintah, aku melihat ada sebuah produk motor yang memiliki kekuatan beberapa kali tenaga kuda. Harganya sama dengan besarnya seluruh gajiku. Tetapi aku tidak peduli. Aku kuras semua uang simpananku untuk membeli motor made in Itali tersebut yang bobotnya sangat berat sekali. Sesampai di kamar, aku letakkan benda itu di atas bantal. Aku mengamati-amatinya, seperti sedang mengamati sebuah mahkota yang terbuat dari mutiara. Aku berkata dalam batin, “Inilah rahasia kekuatan Eropa. Seandainya aku bisa membuat motor seperti ini, aku akan sanggup merubah sejarah Jepang.” Aku PERHATIKAN dengan SEKSAMA, benda ini terdiri dari beberapa komponen yang memiliki bentuk, berbagai karakter, unsur-unsur magnit, kabel-kabel jaringan, roda, gigi roda dan lain sebagainya. Seandainya aku lepas komponen-kompenen tersebut lalu aku berhasil menyusunnya kembali seperti semula, paling tidak satu langkah aku sudah bisa mengetahui rahasia model produk dari Eropa.

Selama tiga hari dengan TEKUN aku terus mengutak-atik motor produk Itali yang sudah aku lepaskan komponen-komponen tersebut. Dan dengan mencocokkan satu persatu dengan teori dan petunjuk buku-buku yang diberikan oleh para dosenku, akhirnya aku berhasil menyusunnya kembali seperti semula. Aku merasa puas Karena usahaku selama tiga hari berturut-turut yang hanya sempat makan satu kali sehari dan tidur hanya sebentar saja, ternyata membuahkan hasil.
Aku bawa berita keberhasilanku kepada pimpinan delegasi. Ia Nampak sangat gembira sekali. Ia memujiku dengan mengatakan, “Bagus sekali apa yang telah berhasil kamu lakukan ini. Sekarang aku akan mengujimu, aku akan membawakan untukmu sebuah motor yang sudah tak terpakai. Kamu lepaskan komponen-komponennya. Kamu temukan letak kerusakan-kerusakannya lalu kamu perbaiki, sampai motor itu bisa digunakan kembali.”
Untuk tugas berat itu aku diberi waktu selama sepuluh hari. Dalam waktu yang relatif singkat tersebut aku harus mengetahui kerusakan-kerusakan motor tersebut. Karena ada tiga komponennya yang sudah tidak bisa dipakai lagi, maka aku harus membuatnya sendiri dengan menggunakan alat palu dan kikir.
Setelah berhasil, ketua delegasi yang menjadi penasehat spiritualku mengatakan, “Sekarang kamu harus bisa membuat sendiri komponen-komponennya.” Untuk tugas ini aku lebih memilih untuk melakukan studi banding di pabrik-pabrik peleburan besi, peleburan tima, dan peleburan aluminium, dari pada menyiapkan tesis doktoral seperti yang disarankan oleh dosenku warga Jerman.

Aku lalu memutuskan mendekati seorang karyawan pabrik tersebut untuk menimba ilmu serta pengalamamn darinya. Kendati untuk itu aku HARUS RELA DIJADIKAN PELAYANNYA. Aku turuti semua perintahnya, seakan-akan ia seorang bos besar. Padahal di negeriku aku berasal dari keluarga Samurai. Tetapi demi masa depan Jepang aku rela melakukan segalanya. Selama sepuluh sampai lima belas jam sehari aku bekerja di pabrik itu. Malam harinya aku masih harus mendapat giliran jaga. Dan dalam waktu senggang itulah aku gunakan untuk TERUS BELAJAR SENDIRI.
Begitu Mikado pengusa Jepang mengetahui prestasiku, secara khusus ia mengirimi aku uang sebanyak lima ribu keping emas Inggris. Uang itu lalu aku pakai semuanya untuk membeli beberapa peralatan pabrik motor dan beberapa peralatan lainnya yang aku butuhkan, sehingga ketika akan pulang ke Jepang aku sudah tidak punya uang sama sekali. Bahkan semua gajiku habis tanpa ada yang tersisa sedikit pun.
Begitu tiba di Nagasaki, aku mendengar informasi bahwa Mikado ingin bertemu denganku. Tetapi aku tolak. Aku baru berhak bertemu dengannya setelah aku berhasil membuat motor sendiri. Dan untuk tugas berat itu aku menghabiskan waktu selama TUJUH TAHUN.
Pada suatu hari yang sangat mebahagiakan itu, bersama asistenku aku membawa sepuluh unit motor produk Jepang berbentuk potongan-potongan komponen. Kami bertemu dengan kaisar Mikado. Setelah saling memberi hormat, sambil tersenyum lebar ia berkata, “Ini lebih manis dari pada alunan musik yang biasa aku dengar. Inilah suara motor khas Jepang.”
Dengan demikian kami bangsa Jepang berhasil memiliki model yang menjadi rahasia kekuatan orang-orang Barat. Kami berhasil membawanya ke Jepang. Kami bawa kekuatan Eropa ke Jepang. Dan kami bawa Jepang ke Barat.
Seseorang yang pernah hidup satu asrama dengan para pelajar Jepang yang dikirim ke Amerika untuk tugas belajar mengatakan kesannya. “Kadang-kadang mereka betah berada di perpustakaan kampus hingga tengah malam. Bahkan ada salah seorang dari mereka yang tidak mau pulang, tetapi memilih tidur di kursi kelasnya sambil menunggu pelajaran hari berikutnya.”
Ustad Muhammad Ahmad ar-Rasyid hafizhahullah mengatakan,
“Pada suatu hari aku pernah menganjurkan kepada seorang mahasiswa Arab belajar secara privat dengan Ustadz Fuad Sarkin di kediamannya di Frankfrut. Tetapi ustadz Sarkin mensyaratkan, si mahasiswa harus mau belajar kepadanya minimal enam jam setiap hari. Ia tidak mau. Setelah itu Ustadz Sarkin memberi kabar kepadaku bahwa ada beberapa mahasiswa Jepang yang sedang belajar di lembaga pendidikannya. Mereka sedang menekuni tulisan-tulisan Arab. Mereka mau memenuhi syarat yang diajukan oleh Ustadz Sarkin. Coba, pikirkan.

Copy paste dari buku:
The Power of Idea, Meraih Cita-Cita dengan semangat membara karya M. Ahmad Ismail, Robbani Press (judul asli: Uluwwul Himmah, penerbit Daru Thayyibah al-Khadra’ Mekkah Mukaromah, 1422H/2001M, cetakan IX).
semoga kisah ini dapat melejitkan semangaaaatt kita.. ^-^

Iklan