MANTRA Berbuah CINTA # 3

ayoooo intip lanjutan rajutan drama hidup si Aya.
Part-3

Seorang dosenku pernah memberi wejangan “untuk memulai sesuatu itu memang susah namun lebih susah lagi mempertahankan apa yang telah kita raih”.
Pertanyaannya apakah yang telah kuraih selama puluhan tahun menjadi penghuni bumi? pfff.. yang masih bingung menjawab_termasuk aku_yuk berbenah mengevaluasi lagi mimpi kita dan progress-nya.

Satu tahun delapan bulan sudah aku berperan di sebuah apotek di kota gudeg, tanpa menyempatkan pulang ke tanah kelahiranku setelah selesai sekolah. Sebelum nyemplung dalam apotek ada pergolakan batin yang amat hebat dan membutuhkan waktu tidak sebentar, kalo tak salah sekitar seminggu aku sholat istikharah untuk memutuskan apakah menerima tawaran untuk berkarya di apotek atau tidak.

Badai dalam hati dan fikiranku merupakan buah dari PKL (praktek kerja lapangan) ku di sebuah apotek beberapa bulan sebelum aku lulus. Ada kenangan pahit yang membuatku sempat berbisik dalam hati bahwa aku tidak akan pernah melamar untuk bekerja di apotek!! Namun skenario-Nya siapa yang sangka.

Saat itu aku sangat bingung. Kakak pertamaku mengabari lewat sms kalo Ibu sakit, pusing dan nggak enak badan. Aku ngerti jika beban pikiran Ibuku masih banyak. Aku belum bisa mandiri, kerjaan belum tetap, adikku pun belum selesai kuliah.

Ibu berharap tinggal mengurusi si bungsu saja coz sebentar lagi Ibu pensiun. Ya Rabb…. Apakah aku begitu egois mempertahankan mimpiku? Aku masih bermimpi ingin berkarya di dunia industri farmasi namun yang hadir adalah dunia apotek. Kemarin aku dilamar untuk menjadi Apoteker pendamping di apotek Cantik Farma.

Aku masih merindukan dunia industri farmasi. Entah kenapa aku jatuh cinta pada industri farmasi. Bukankah tak selalu jatuh cinta membutuhkan alasan dan penjelasan yg logis. Tapi aku tak kuat memegang mimpiku jika mempertaruhkan kebahagiaan kedua orang tuaku. Aku harus gimana??…..

Wahai penggenggam jiwaku, desainer mimpiku, aku mohon dengan sangat petunjuk_Mu…..
Aku pasrah dan manut dengan keputusan_Mu, terserah Allah saja, aku harus melangkah dan memutuskan apa?..

Fase keputusan

Bintang dahsyat menggetarkan
menyedot rasa kagumku
pesonanya menjalari aliran darahku
menerbitkan harapan nan indah
kemilaunya menahan langkahku melihat sosok kelamnya

hatiku condong padanya
hasratku merengkuh & menaklukkannya
kebanggaan sebagai mahluk sempurna
membutakan segala petunjuk

Berjalan menyusuri lika-likunya
Tak jua ku sampai diujung
Tak diduga tak disangka
Hadir penawaran yang rumit

Bintang baru di langit yang sama
kembar indah dengan bintangku
saat ini ia lebih pasti
hangat cahayanya dapat kurasa

Mempertahankan mimpiku
Bagai mengenggam keegoisan tak berujung
Menyimpannya sementara waktu
Memicu gemuruh ketakrelaan

Remang-remang tak berwujud
Tak dapat ku terka
Tak dapat ku prediksi
Hingga detik ini
Ketuk palu belum dapat ku tunaikan

Allah tolong beriku petunjuk
Aku pasrah pada_Mu
Aku ikut skenario_Mu
Tapi ku mohon izinkan ku menggapai bintangku
Walau hanya sesaat
Walau menunggu sekian lama

Setelah menimbang, memilah, menggodok (apa coba yang digodog??..) akhirnya kuputuskan menerima tawaran tersebut. Satu hal aku tak boleh egois dalam mengambil keputusan. Mengingat harapan setiap orang tua terhadap putra-putrinya yang baru lulus sekolah. Bisa dibayangkan dong gimana awal-awal bekerja di tempat yang aku tak suka (awalnya). Namun perjalanan waktu membalikkan perasaanku terhadapnya.

Tim yang kompak plus kekeluargaan yang kental di sana membuatku mulai betah dan menikmati pekerjaanku. Aku banyak belajar bagaimana manajemen di apotek, berinteraksi dengan pasien, memahami keinginan mereka, mendengar curhat mereka_yang sering membuatku banyak bersyukur, sering-seringlah melihat ke bawah maka akan kau dapati begitu sempurna hidupmu atas limpahan nikmat dari-Nya.

Merasakan diri ini diburu dan dicari pasien, betapa bahagianya bisa bermanfaat bagi sesama. Tak jarang pasien yang datang hanya ingin konsultasi dan curhat. Apotek kami memang sedang belajar menerapkan idealisme yang selayaknya diterapkan oleh setiap rumah obat alias apotek, ‘No Pharmasict No Service’. Jika kawan berkunjung ke apotek, bolehlah say hello dengan apotekernya, berkonsultasi terlebih dahulu jika memang ada keraguan dalam hatimu terkait obat-obatan. Karena itulah salah satu fungsi para apoteker.

Lambat laun aku pun sangat bersyukur dengan keputusanku berperan di sini. Limpahan ilmu, persahabatan yang tulus mengalir deras di sini. Allah memang Maha Tahu yang terbaik untuk kita. Apa yang menurut kita tidak baik, belum tentu juga tidak baik menurut Allah. So apapun keputusan-Nya, cobalah melihat ke depan dan yakin itulah yang terbaik untuk kita_bukan berarti pasrah dalam hidup yaa.

Sekarang setelah satu tahun delapan bulan berkarya di apotek, ada hal besar yang cukup mengganggu pikiranku yaitu kapan pulang ke kota di mana orang tuaku tinggal. Memutuskan hal ini tak segampang membalikkan telapak tangan kawan. Menyadari diriku berada di lingkungan kerja dan tempat tinggal yang super duper nyaman. Namun keinginan untuk pulang begitu kuat, selagi masih ada waktu aku ingin lebih dekat dengan orang tuaku.

Keputusanku disambut gembira oleh Ibu dan Bapak. Tiket serta persiapan yang lain sudah oke. Walau pertanyaan “ntar di sana aku bakal kerja di mana ya??..” tak jarang menghinggapi pikiranku namun segera ku tepis dengan meningkatkan keyakinan akan pertolongan-Nya. Dia tidak akan menyia-nyiakan setiap hamba-Nya yang memiliki niat tak buruk.

Sebenarnya ada keinginan yang sangat ingin kutunaikan sebelum pulang kampung. Mumpung masih punya duit sendiri (sebelum besok kembali ke pondok orang tua permai). Aku pengen sedekah dalam jumlah yang lumayan. Tapi.. kebimbangan menghampiriku karena saat itu ada beberapa barang yang juga ingin kubeli. Yang pasti bila aku tetep sedekah, aku bakal langsung terserang kangker (kantong kering). Gimana dong??.. tapi kalo aku menundanya, aku khawatir tak ada kesempatan kedua. Pertempuran batin antara keinginan dunia yang wah namun sesaat dengan keinginan menabung untuk rumah masa depan (alam akhirat).
Setelah dianalisis SWOT (nggaya ne rek!) akhirnya kubulatkan tekad mengirim sedekahku tersebut ke salah satu yayasan. Walau pun setelahnya kudu hidup prihatin beberapa saat. Hihi…
Ternyata kedua amalku itu (niat berbakti kepada orang tua & sedekah) bekerja & berefek cepat kawan.

“Dibutuhkan Apoteker untuk PBF (Pedagang Besar Farmasi) ABC, bila berminat segera kirimkan lamaran ke sini” sms dari teman sejawatku yang juga merupakan adek ipar temen kantor Ibuku. Kabar akan pulangnya diriku tersiar ke telinga beberapa teman kantor Ibu (mungkin saking senengnya anak gadisnya akhirnya mau pulang juga). Nah berita itu sampai juga ke temen kantor Ibu yang mempunyai adik ipar seorang Apoteker. Aku pun sampai sekarang belum pernah bertemu langsung dengan teman baruku itu. Unik dan menakjubkan ya skenario Allah.

Awalnya info tersebut tak begitu ku hiraukan karena aku tak terlalu tertarik bekerja di PBF. Pemilih banget ya? ah, nggak juga. Aku seneng kok ngelihat teman-teman sesama apoteker yang berkarya di PBF, industri obat (ini seneng banget en pengeen), industri jamu, apotek, Rumah sakit, klinik kecantikan, badan pemerintah (Dinkes, Depkes, BPOM) dan sederet tempat untuk berkarya lainnya. Tiap tempat mempunyai keunikan dan kenikmatan yang khas. Kembali ke laptop.

Namun dengan seringnya orang tuaku bertanya sudah mengirimkan lamaran ke PBF ABC tersebut atau belum, membuatku luluh dan nggak tega mengecewakan mereka. Akhirnya kukirimkan juga lamaran tersebut.
Tak berapa lama ada respon positif. Aku diminta untuk segera bekerja di sana, padahal posisiku masih di Yogya, sekitar 1-2 minggu sebelum hari H pulang kampung. Ealah niat kerja nggak sih??… Niat dong, cuma pengen menikmati dulu waktu-waktu terakhir di pulau jawa dengan berlibur ke rumah temen dan sodara di kota tetangga Yogya.

Surprise kedua datang dari guru mengajiku yang mengabari ada seorang ikhwan (lelaki) yang hendak berta’aruf (berkenalan) denganku. Deg! Hatiku mulai bermaraton ria. Sholat istikharah pun berlangsung untuk menetapkan hati apakah menerima proses ta’aruf ini atau tidak. Berita ini kuterima saat masih berlibur di rumah sodara.

Tapi saat aku pulang dari rumah sodara, waktunya sudah mepet dengan jadwal pulang kampung. Tak ada waktu lagi untuk bertemu walau sekali. Aku pun disarankan untuk memundurkan jadwal keberangkatan langsung ke kantor pusat maskapai penerbangan yang kupakai. Jantungku langsung ikut lomba lari jarak jauh saat kuseret motorku menuju kantor tersebut. Hawa sejuk kantor lumayan menenangkan deburan jantungku. Tapi aku malah lemes saat jawaban pertama si mbak petugas,

“itu tergantung masih ada seat yang kosong nggak mbak, maunya diundur berapa hari?” tanya mbak petugas.
“mm.. lima hari mbak, bisa nggak?” dag-dig-dug-dueerrr irama jantungku.
“saya cek dulu ya”

Tak lama menunggu “oh masih ada seat kosong mbak, jadi diundur ya? saya print kan tiket yang baru dulu, bisa ditunggu sebentar” sambil mempersilahkan aku duduk di bangku sofa ruang tunggu.
“iya mbak” jawabku teramat sangat lega (lomba lari jarak jauh selesai, lumayan olah raga jantung).

“eh tapi nambah biaya tiket nggak mbak?” aku harap-harap cemas, secara lagi bokek.
“nggak mbak, tapi kalo lewat dari lima hari sudah kena cash”
Oh Allah makasih banyak, Alhamdulillah. Lumayan banget bisa mundur beberapa hari tanpa kena cash tambahan. Alhamdulillah berikutnya akhirnya proses perkenalan pertama kali secara tatap muka pun berjalan lancar bebas hambatan. Serasa di jalan tol deh.

“Nikmat mana lagi yang kamu dustakan?” begitu bunyi salah satu ayat surat Ar Rahman. Belum juga ku injakkan kaki di kotaku, aku sudah mendapatkan tempat kerja dengan penghasilan yang bisa ku nego sesuai keinginanku_tentunya yang masih wajar menurut perusahaan plus jika Allah mengizinkan akan mendapatkan seorang pangeran.

Sebulan lebih sudah aku berkarya di PBF ABC tersebut dengan kawan-kawan yang luar biasa hebat. Serasa menemukan dunia baru berisikan orang-orang muda dengan semangat kerja yang tinggi, humoris, rasa kekeluargaan yang kental, pokoke mantab deh. Plus penghasilan yang berkali lipat saat ku di yogya.

Lagi-lagi dan lagi diingatkan Allah bahwa apa yang menurutku tak menarik belum tentu tak menarik menurut-Nya. Malah setelah dinikmati ternyata rasanya fantastis. So mantabkan langkah, perjelas mimpi kita dan yakinlah selalu akan pertolongan plus keajaiban dari-Nya. Karena Dia akan selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Asal keinginan kita masih berada di jalur-Nya. Hatur nuhun pisan ya Allah. 

Apa hayoo MANTRA (MANuver Top & Riil/nyAta) kita kali ini?..
Sini tak bisikin, MANTRA ketiga plus keempat adalah BERBAKTI KEPADA ORANG TUA dan SEDEKAH.

bersambung..

Iklan