MANTRA berbuah CINTA # 5

Nah lho, Aya lagi Aya lagi ini ceritane, moga gak bosen yaah.. lanjuuuttt.

Part-5

      “Mmm jadi nggak ya? tapi kalo jadi aku bakal kuat nggak ya?… ntar malah lemes seharian?… gimana nih?…” pergolakan batinku. Astagfirullah. Masak begini saja bimbang sih. Bismillah manteb deh maju terus. Seorang kawan pernah berpesan, ‘untuk memulai suatu amal yang baik, tak apa diawal kita memaksakan diri dulu/belum ikhlas bener. Anggap ini bagian dari proses belajar. Nanti lambat laun juga akan terbiasa dan menjadi ikhlas.’

 

Mentari masih hangat dan belum garang. Saat lagi keluar kantor menyelesaikan suatu urusan, aku sempatkan diri mampir ke warung beli sarapan pesanan teman. Jejeran ayam kecap, ikan goreng sambel, telur balado, dan aneka sayuran tumis, lodeh, sop yang masih mengebul menerbitkan selera tiada hingga. Hmm.. wangi makanannya membuatku kelimpungan mengokohkan kebulatan tekadku, ckckck… masih pagi neh, perjuangan masih puanjaang.

 

Saat mentari mulai sangar, virus lemes, ngantuk dan kesel menghampiriku tapi.. harumnya aroma bakso yang sedap membuatku segar kembali. Melihat temen-temen begitu lahap dan menikmati bakso sebagai menu siangnya jadi memunculkan ingin yang sangat untuk mencicipinya. Duh pengeeeen, ups! belum waktunya.

 

Alhamdulillah semburat jingga muncul juga di ufuk barat. Kumandang adzan magrib pun mengalun merdu. Menenangkan konser cacing dalam perutku. Yes! Alhamdulillah, berhasil sobat, puasa sunah ini bisa juga kutaklukkan.

 

Aku pernah baca artikel yang menyebutkan bahwa Dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, dia Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Tiga doa yang tidak ditolak; doa orangtua terhadap anaknya, doa orang yang sedang puasa, dan doa seorang musafir.” HR Baihaqi dan dishahihkan oleh Al-Albani

 

Nah lho siapa yang rela melewatkan kesempatan ini, meminta sebanyak-banyaknya harapaan pada yang Maha Pengabul segala harapan di waktu mustajabnya doa? Tentunya tak ada yang rela dong. Termasuk aku, secara orang normal gitu loh. Ada penawaran pengabulan doa, ya dimanfaatin dunkz. Ternyata puasa membuatku berfikir atas nikmat berlimpah yang selama ini mengalir deras untukku. Baru sadar pas puasa, menahan segala hasrat jiwa dan raga. Sering bingung mau makan apa dan di mana? (aku banget nih, kamu?.. hayoo ngaku), padahal tetangga sebelah sedang bingung karena nggak ada yang bisa dimakan. Astagfirullah.

 

Saat pulang ke rumah dan ngobrol dengan Ibu, hatiku bergemuruh. Pihak lelaki menginginkan proses perkenalan yang tak terlalu lama menuju hari H pernikahan. Glek! Kaget juga ditodong begitu. Walau pun memang lebih cepat lebih baik untuk meminimalkan hal-hal tak diinginkan. Ternyata tak semua harap selaras dengan rangkaian skenario Ilahi. Dan sebagai anak yang baik (cie.. cie..) aku manut sama Ibu & Bapak. Pertimbangan masih banyak hal lumayan besar yang sedang diurus orang tuaku beberapa bulan ini, sehingga belum memungkinkan untuk segera melangsungkan pernikahan. Lagian aku baru aja pulang, masak sudah harus pergi lagi. Keinginan untuk bersama beberapa saat denganku mungkin juga menjadi pertimbangan orang tuaku. Aku oke-oke saja, coz yakin kalo jodoh, tak bakal ke mana.

 

Kesibukan di kantor tak jarang membuatku lupa sedang berta’aruf karena memang kami amat sangat jarang sekali berkomunikasi. Si dia lebih sering komunikasi langsung dengan Ibu dan Bapakku. Sampai di satu titik aku benar-benar tak tahu bagaimana kondisi ta’aruf ini.

 

Ada rasa bersalah serasa sedang cuci tangan dengan hal-hal terkait proses ta’aruf ini.Tapi ternyata orang tua juga sudah punya rencana sendiri terkait rencana besar dalam hidupku ini. Aku nggak banyak cing-cong, cukup sekedar mengemukakan yang menurutku prinsip coz khawatir bertingkah bak anak kecil yang sok tahu jadi manut aja dengan aturan main ortu yang pasti kudu tetap syar’i.

 

Ternyata Allah mengabulkan keinginan hatiku untuk segera mengikuti sunah Rasulullah sekaligus menggenapkan setengah dien. Si dia menyetujui proses diundur beberapa bulan. Dan..tanpa terasa aku hampir berada di hari-hari terakhir kota kecilku. Sudah mulai menghitung hari lagi untuk hijrah ke kota lain.

 

Makin menuju tanggal keberangkatan, ada yang serasa mengganjal dalam hatiku. Baru sadar rajutan ukhuwah bersama teman-teman kantorku cukup kental, akan meninggalkan mereka serasa berjuta kilo beras menindihku, lebay buanget. Tapi itulah yang kurasa. Bukankan ada jumpa kelak ada pisah dan itulah ritme kehidupan. Berjumpa sekumpulan sosok luar biasa dalam episode hidup kali ini membuatku terharu,sungguh!

 

Yah, walau tak lagi sekota semoga ukhuwah bisa tetap terjaga. Hahaii, mempunyai sekawanan sahabat amatlah menyenangkan. Namun tetap kudu kuucapkan ‘selamat tinggal kotaku yang cantik dan selamat datang kota baru yang belum tahu akan singgah di mana nanti diriku.’

 

Teman kantorku pernah berujar “enak ya jadi kamu, nggak perlu ngerasain capek dan ribetnya mengurus segala hal terkait pernikahan, ke KUA, ke sana ke mari” aku cuma tersenyum sembari melantun syukur dalam hati pada Allahku yang Maha luar biasa baik.

 

Alhamdulillah semua berjalan mulus sobat, walau sempat banjir bandang air mata, namun saat itu pun tiba.. dag-dig-dug-duerr! senandung hati terdalamku menjelang detik-detik pergantian status dari nona imut menjadi nyonya manis (halah, narsis e poll). SEKIAN.

 

MANTRA (MANuverTop & Riil/nyAta) ketujuh sekaligus terakhir ini adalah PUASA SUNNAH.

 

# campursari cerita si Aya #

Oke sobat cukup tujuh saja ya cerita si Aya tentang MANTRA (MANuver Top & Riil/nyAta) berbuah CINTA. Tujuh MANTRA ini : BERDOA, STW (SHOLAT TEPAT WAKTU), BERBAKTI KEPADA ORTU, SEDEKAH, SHOLAT TAHAJUD, SHOLAT DHUHA, & PUASA SUNAH, dilakukan Aya sebisanya. Walau tak jarang masih suka bolong-bolong. Tapi satu hal yang kudu dipegang saat menggunakan MANTRA ini adalah kudu YAKIN seyakin-yakinnya bahwa Allah pasti akan selalu memberikan yang terbaik untuk kita. positif thinking.

Alhamdulillah setengah tahun lebih berta’aruf, akhirnya ganti status juga si Aya menjadi istri dari seorang pangeran berkuda putih (seorang lelaki yang insya Allah sholeh, yang menjemputnya dengan cara terbaik). Tolong doakan kehidupan rumah tangga si Aya ya sob, agar sakinah mawaddah warohmah dan dianugerahkan anak-anak yang sholeh-sholehah, yang dapat memberi bobot kepada bumi dengan kalimat Laa ilaa ha illallah. Amin Allahumma amin. Doainnya diem-diem aja supaya makbul 🙂

Walaupun dalam menjalankan MANTRA tersebut masih belepotan namun rangkaian keajaiban yang dialami Aya udeh manis buanget. Apalagi kalo MANTRA tersebut dijalankan dengan sebaik mungkin, bisa dahsyat banget tuh, insya Allah.

Meminjam istilah Ipho Santosa. ALLAH itu MAHA OKE. Kalo kita berfikir “wah rasanya mau sakit nih” maka Allah akan menjawab “Oke, kamu sakit”

Tapi kalo kita berfikir “aku sehat kok” maka Allah pun akan menjawab “Oke, kamu sehat”

Begitupun dalam hal mendapatkan teman hidup terbaik. Kita kudu yakin. “Aku bisa mendapatkan seorang pangeran berkuda putih (yang sholeh maksudnya) insya Allah”

Maka Allah pun menjawab, “Oke, kamu akan mendapatkannya”

Aku setuju banget dah sama pendapat penulis buku 7 Keajaiban Rezeki itu.

Orangtua, anggota keluarga lain, sahabat, bahkan orang yang tidak kita kenal sekalipun bisa menjadi jalan bagi datangnya sang pangeran /permaisuri. Yang penting YAKIN, yakin dan yakin terus sama Allah sambil tak lupa ikhtiar tentunya.

So mendapatkan teman hidup terbaik, TAK MESTI lewat pacaran. TAPI MESTI lewat jalan-NYA. Bukankah kita dilarang mendekati zina??.. kebanyakan kasus pacaran bukankah mendekati zina??.. 

Bila kita mendapatkan pangeran/permaisuri lewat jalan-Nya maka insya Allah yang kita dapatkan adalah langsung pilihan dari PEMILIK seluruh pangeran di jagat raya. Pastinya yang terbaik dari-Nya untuk kita.  Laki-laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik, begitu pun sebaliknya perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik.

Sebagai penutup mulut eh penutup cerita, kita tengok tulisan om Darwis Tere Liye yuk, yang tak lain dan tak bukan merupakan penulis buku ‘Hafalan sholat Delisa’.

“Telat itu kalau kita ada janji, lantas datang terlambat. Telat jadinya. Maka, jelas tidak ada itu ‘telat menikah’. Lah, memangnya kita janji dengan siapa? Jika belum datang jodohnya terus bersabar. Tidak akan rugi orang-orang yang bersabar.”

Zemangatt ya! Selamat berjuang.

INTI dari kisah ini nyata sobat. Semoga bermanfaat. Maaf nama disamarkan menjadi si Aya karena permintaan nara sumber. Kurang lebih, salah kata, & segala khilaf disengaja atau pun tidak, aye minta maaf ye. Dan maaf juga bila dalam penulisan terdapat banyak keanehan kata/kesalahan penulisan, baru belajar menulis. Terima kasih.

Big thanks to Allah, Alhamdulillahirobbi’alamin.

Terimakasih juga kepada Ust. Yusuf Mansur,& Ipho Santosa, atas transfer ilmunya yang dahsyat dan menggerakkan.

Gambar 

Iklan