MANTRA berbuah CINTA # 5

Nah lho, Aya lagi Aya lagi ini ceritane, moga gak bosen yaah.. lanjuuuttt.

Part-5

      “Mmm jadi nggak ya? tapi kalo jadi aku bakal kuat nggak ya?… ntar malah lemes seharian?… gimana nih?…” pergolakan batinku. Astagfirullah. Masak begini saja bimbang sih. Bismillah manteb deh maju terus. Seorang kawan pernah berpesan, ‘untuk memulai suatu amal yang baik, tak apa diawal kita memaksakan diri dulu/belum ikhlas bener. Anggap ini bagian dari proses belajar. Nanti lambat laun juga akan terbiasa dan menjadi ikhlas.’

 

Mentari masih hangat dan belum garang. Saat lagi keluar kantor menyelesaikan suatu urusan, aku sempatkan diri mampir ke warung beli sarapan pesanan teman. Jejeran ayam kecap, ikan goreng sambel, telur balado, dan aneka sayuran tumis, lodeh, sop yang masih mengebul menerbitkan selera tiada hingga. Hmm.. wangi makanannya membuatku kelimpungan mengokohkan kebulatan tekadku, ckckck… masih pagi neh, perjuangan masih puanjaang.

 

Saat mentari mulai sangar, virus lemes, ngantuk dan kesel menghampiriku tapi.. harumnya aroma bakso yang sedap membuatku segar kembali. Melihat temen-temen begitu lahap dan menikmati bakso sebagai menu siangnya jadi memunculkan ingin yang sangat untuk mencicipinya. Duh pengeeeen, ups! belum waktunya.

 

Alhamdulillah semburat jingga muncul juga di ufuk barat. Kumandang adzan magrib pun mengalun merdu. Menenangkan konser cacing dalam perutku. Yes! Alhamdulillah, berhasil sobat, puasa sunah ini bisa juga kutaklukkan.

 

Aku pernah baca artikel yang menyebutkan bahwa Dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, dia Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Tiga doa yang tidak ditolak; doa orangtua terhadap anaknya, doa orang yang sedang puasa, dan doa seorang musafir.” HR Baihaqi dan dishahihkan oleh Al-Albani

 

Nah lho siapa yang rela melewatkan kesempatan ini, meminta sebanyak-banyaknya harapaan pada yang Maha Pengabul segala harapan di waktu mustajabnya doa? Tentunya tak ada yang rela dong. Termasuk aku, secara orang normal gitu loh. Ada penawaran pengabulan doa, ya dimanfaatin dunkz. Ternyata puasa membuatku berfikir atas nikmat berlimpah yang selama ini mengalir deras untukku. Baru sadar pas puasa, menahan segala hasrat jiwa dan raga. Sering bingung mau makan apa dan di mana? (aku banget nih, kamu?.. hayoo ngaku), padahal tetangga sebelah sedang bingung karena nggak ada yang bisa dimakan. Astagfirullah.

 

Saat pulang ke rumah dan ngobrol dengan Ibu, hatiku bergemuruh. Pihak lelaki menginginkan proses perkenalan yang tak terlalu lama menuju hari H pernikahan. Glek! Kaget juga ditodong begitu. Walau pun memang lebih cepat lebih baik untuk meminimalkan hal-hal tak diinginkan. Ternyata tak semua harap selaras dengan rangkaian skenario Ilahi. Dan sebagai anak yang baik (cie.. cie..) aku manut sama Ibu & Bapak. Pertimbangan masih banyak hal lumayan besar yang sedang diurus orang tuaku beberapa bulan ini, sehingga belum memungkinkan untuk segera melangsungkan pernikahan. Lagian aku baru aja pulang, masak sudah harus pergi lagi. Keinginan untuk bersama beberapa saat denganku mungkin juga menjadi pertimbangan orang tuaku. Aku oke-oke saja, coz yakin kalo jodoh, tak bakal ke mana.

 

Kesibukan di kantor tak jarang membuatku lupa sedang berta’aruf karena memang kami amat sangat jarang sekali berkomunikasi. Si dia lebih sering komunikasi langsung dengan Ibu dan Bapakku. Sampai di satu titik aku benar-benar tak tahu bagaimana kondisi ta’aruf ini.

 

Ada rasa bersalah serasa sedang cuci tangan dengan hal-hal terkait proses ta’aruf ini.Tapi ternyata orang tua juga sudah punya rencana sendiri terkait rencana besar dalam hidupku ini. Aku nggak banyak cing-cong, cukup sekedar mengemukakan yang menurutku prinsip coz khawatir bertingkah bak anak kecil yang sok tahu jadi manut aja dengan aturan main ortu yang pasti kudu tetap syar’i.

 

Ternyata Allah mengabulkan keinginan hatiku untuk segera mengikuti sunah Rasulullah sekaligus menggenapkan setengah dien. Si dia menyetujui proses diundur beberapa bulan. Dan..tanpa terasa aku hampir berada di hari-hari terakhir kota kecilku. Sudah mulai menghitung hari lagi untuk hijrah ke kota lain.

 

Makin menuju tanggal keberangkatan, ada yang serasa mengganjal dalam hatiku. Baru sadar rajutan ukhuwah bersama teman-teman kantorku cukup kental, akan meninggalkan mereka serasa berjuta kilo beras menindihku, lebay buanget. Tapi itulah yang kurasa. Bukankan ada jumpa kelak ada pisah dan itulah ritme kehidupan. Berjumpa sekumpulan sosok luar biasa dalam episode hidup kali ini membuatku terharu,sungguh!

 

Yah, walau tak lagi sekota semoga ukhuwah bisa tetap terjaga. Hahaii, mempunyai sekawanan sahabat amatlah menyenangkan. Namun tetap kudu kuucapkan ‘selamat tinggal kotaku yang cantik dan selamat datang kota baru yang belum tahu akan singgah di mana nanti diriku.’

 

Teman kantorku pernah berujar “enak ya jadi kamu, nggak perlu ngerasain capek dan ribetnya mengurus segala hal terkait pernikahan, ke KUA, ke sana ke mari” aku cuma tersenyum sembari melantun syukur dalam hati pada Allahku yang Maha luar biasa baik.

 

Alhamdulillah semua berjalan mulus sobat, walau sempat banjir bandang air mata, namun saat itu pun tiba.. dag-dig-dug-duerr! senandung hati terdalamku menjelang detik-detik pergantian status dari nona imut menjadi nyonya manis (halah, narsis e poll). SEKIAN.

 

MANTRA (MANuverTop & Riil/nyAta) ketujuh sekaligus terakhir ini adalah PUASA SUNNAH.

 

# campursari cerita si Aya #

Oke sobat cukup tujuh saja ya cerita si Aya tentang MANTRA (MANuver Top & Riil/nyAta) berbuah CINTA. Tujuh MANTRA ini : BERDOA, STW (SHOLAT TEPAT WAKTU), BERBAKTI KEPADA ORTU, SEDEKAH, SHOLAT TAHAJUD, SHOLAT DHUHA, & PUASA SUNAH, dilakukan Aya sebisanya. Walau tak jarang masih suka bolong-bolong. Tapi satu hal yang kudu dipegang saat menggunakan MANTRA ini adalah kudu YAKIN seyakin-yakinnya bahwa Allah pasti akan selalu memberikan yang terbaik untuk kita. positif thinking.

Alhamdulillah setengah tahun lebih berta’aruf, akhirnya ganti status juga si Aya menjadi istri dari seorang pangeran berkuda putih (seorang lelaki yang insya Allah sholeh, yang menjemputnya dengan cara terbaik). Tolong doakan kehidupan rumah tangga si Aya ya sob, agar sakinah mawaddah warohmah dan dianugerahkan anak-anak yang sholeh-sholehah, yang dapat memberi bobot kepada bumi dengan kalimat Laa ilaa ha illallah. Amin Allahumma amin. Doainnya diem-diem aja supaya makbul 🙂

Walaupun dalam menjalankan MANTRA tersebut masih belepotan namun rangkaian keajaiban yang dialami Aya udeh manis buanget. Apalagi kalo MANTRA tersebut dijalankan dengan sebaik mungkin, bisa dahsyat banget tuh, insya Allah.

Meminjam istilah Ipho Santosa. ALLAH itu MAHA OKE. Kalo kita berfikir “wah rasanya mau sakit nih” maka Allah akan menjawab “Oke, kamu sakit”

Tapi kalo kita berfikir “aku sehat kok” maka Allah pun akan menjawab “Oke, kamu sehat”

Begitupun dalam hal mendapatkan teman hidup terbaik. Kita kudu yakin. “Aku bisa mendapatkan seorang pangeran berkuda putih (yang sholeh maksudnya) insya Allah”

Maka Allah pun menjawab, “Oke, kamu akan mendapatkannya”

Aku setuju banget dah sama pendapat penulis buku 7 Keajaiban Rezeki itu.

Orangtua, anggota keluarga lain, sahabat, bahkan orang yang tidak kita kenal sekalipun bisa menjadi jalan bagi datangnya sang pangeran /permaisuri. Yang penting YAKIN, yakin dan yakin terus sama Allah sambil tak lupa ikhtiar tentunya.

So mendapatkan teman hidup terbaik, TAK MESTI lewat pacaran. TAPI MESTI lewat jalan-NYA. Bukankah kita dilarang mendekati zina??.. kebanyakan kasus pacaran bukankah mendekati zina??.. 

Bila kita mendapatkan pangeran/permaisuri lewat jalan-Nya maka insya Allah yang kita dapatkan adalah langsung pilihan dari PEMILIK seluruh pangeran di jagat raya. Pastinya yang terbaik dari-Nya untuk kita.  Laki-laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik, begitu pun sebaliknya perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik.

Sebagai penutup mulut eh penutup cerita, kita tengok tulisan om Darwis Tere Liye yuk, yang tak lain dan tak bukan merupakan penulis buku ‘Hafalan sholat Delisa’.

“Telat itu kalau kita ada janji, lantas datang terlambat. Telat jadinya. Maka, jelas tidak ada itu ‘telat menikah’. Lah, memangnya kita janji dengan siapa? Jika belum datang jodohnya terus bersabar. Tidak akan rugi orang-orang yang bersabar.”

Zemangatt ya! Selamat berjuang.

INTI dari kisah ini nyata sobat. Semoga bermanfaat. Maaf nama disamarkan menjadi si Aya karena permintaan nara sumber. Kurang lebih, salah kata, & segala khilaf disengaja atau pun tidak, aye minta maaf ye. Dan maaf juga bila dalam penulisan terdapat banyak keanehan kata/kesalahan penulisan, baru belajar menulis. Terima kasih.

Big thanks to Allah, Alhamdulillahirobbi’alamin.

Terimakasih juga kepada Ust. Yusuf Mansur,& Ipho Santosa, atas transfer ilmunya yang dahsyat dan menggerakkan.

Gambar 

Iklan

MANTRA Berbuah CINTA # 4

Jreng- jreng! Cerita  si Aya nongol lagi, masih berminat kan?.. belom bosan ya?_maksa.com, semoga tak kesel ya selalu dijejali kisah ini?.. yuk mariii..

Part-4

“Teringat masa kecilku kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu buatku melambung
Disisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu “

         Alarm berlagu ‘Yang Terbaik Bagimu Ayah’ yang dinyanyikan Ada band feat Gita Gutawa itu membangunkanku.

Segera melompat dan ngibrit ke kamar mandi merupakan strategiku agar tak tergoda untuk tidur lagi. Pengalaman nyataku bila bangun dan terus menggeliat di atas kasur malah meningkatkan nafsu tidurku dan menghilangkan harapan untuk bisa bersujud di sepertiga malam. Secara aku masih belom stabil menjalankan sholat lail (Tahajud) ini so kudu berjuang ekstra untuk membiasakannya.

Dan kadang aku suka nggak kuat tahan pipis lama-lama, lho??… yup, beberapa hari ini aku hampir selalu kebelet setiap bangun tidur karena malam sebelum tidur, membiasakan diri minum air sebanyak mungkin supaya bisa bangun sebelum shubuh. Strategi bangun malam yang kutirunya dari ustad Yusuf Mansur.

Ups, lupa… ini hari selasa, jadwal air mati, otomatis air di kamar mandi dalam kamarku tak cukup layak untuk berwudhu. Aku harus menuju kamar mandi besar yang berada di belakang, dekat dapur. Di sana stok air lumayan melimpah. Tapi.. suasana di luar kamar sangatlah sunyi dan gelap, penghuni rumah ini seperti belum ada yang terjaga. Ini baru pukul tiga pagi. Namun suara berisik di rumah sebelah, membuatku sedikit ngeri. Beberapa pribumi kotaku ini seperti tak punya toleransi, di tengah malam atau pun pagi buta masih saja suka berteriak-teriak nggak jelas. Kubulatkan tekad menuju kamar mandi besar, bismillah.

Krek! suara pintu kamar kubuka. Baru melangkah, seekor kecoa nyebrang di depanku tanpa rasa bersalah membuatku hampir berteriak dan menurunkan lima puluh persen keberanianku. Jantungku berlari bak mengikuti lomba maraton. Ruangan kubus super besar berlantai semen halus dengan dua bak mandi yang juga tak kalah besar berdampingan menjadi tujuanku. Sedikit tergesa masuk ke dalamnya dan hampir kepleset plus sangat lemes melihat seekor cacing di pojokan.

‘Oh Allah, begitu mengerikannya untuk sekedar wudhu dalam rangka bermunajat kepada-Mu.’ Jerit hatiku.

Tak berlama-lama, segera kuambil langkah seribu menuju kamar. Alhamdulillah betapa leganya sampai di kamar kosku yang terang dan super duper nyaman.

Dalam doa malamku setelah diawali dengan surat Al Fatihah, istigfar, hamdalah, tasbih dan sholawat kemudian lanjut melantunkan keinginan hatiku, aku pun memohon:

 “Duhai Allah yang Maha Menguasai hidup seluruh mahluk, yang Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Mu, hamba memohon dengan sifat pengasih dan penyayang-Mu, tolong anugerahkanlah seorang pendamping yang sholeh/sholehah, yang terbaik menurut-Mu untuk mbak Ury, mbak Yat, mbak Tria, kak Bin, mbak Sar, bu Andy, Ning, Ima, Asti, Idon, Una, Is, Iil, Anti, Aan, Eni, Mbul, Iting, Hamdan, Iduk, Fa’i, Amad, Fafan, dan seluruh umat muslim di dunia ya Allah… termasuk untuk hamba juga ya Allah… Engkau Yang Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Mu, hanya kepada-Mu lah kami mohon petunjuk, hanya kepada-Mu lah kami bersujud dan menyembah serta hanya kepada-Mu jualah kami memohon pertolongan, tiada daya upaya selain dari-Mu Ya Rabb” kemudian aku pun menutup doaku dengan mengucap lagi tasbih, tahmid, istigfar dan sholawat, Amin Allahumma amin…

Jadi inget pesan Ustad Yusuf Mansur dalam ceramahnya ‘The art of Doa’ diantaranya yaitu ketika berdoa alangkah lebih baik bila kita mengawali dan mengakhirinya dengan pujian (tasbih), ungkapan syukur (hamdalah), permohonan ampun atas semua khilaf (istigfar) serta sholawat agar saat berdoa, diri kita tampil dalam keadaan sebersih mungkin di hadapan-Nya. Seperti seorang anak yang meminta hadiah pada Bundanya, dia akan bermanja dan bertingkah manis dulu untuk mengambil hati sang bunda. Baru mengungkapkan keinginannya.

Isi doaku pun terinspirasi dari sebuah hadis Riwayat Muslim yang berbunyi “Doa seorang muslim kepada saudaranya secara rahasia dan tidak hadir di hadapannya adalah sangat dikabulkan. Di sisinya ada malaikat yang ditunjuk oleh Allah. Setiap kali ia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut berkata kepada-Nya (Ya Allah, kabulkanlah dan semoga bagimu juga mendapatkan balasan yang semisal)”.

                                                              ***

           Kala itu, malam menjelang pulang kampung. Begadang tanpa tidur sejam pun, coz kudu packing barang yang seabrek bo! Dan… sebenarnya khawatir bangun telat coz pesawatnya pagi sekitar jam enam so sebelum shubuh kudu sudah berangkat ke bandara.

Lelah dan ngantuk tapi seneng dong ya mau ketemu Ibu & Bapak insya Allah. Sekitar setengah tujuh pesawat meninggalkan kota gudeg menuju kampung halamanku. Sebelum sampai di kotaku, pesawat transit dulu di bandara Sultan Hasanudin. Pemberitahuan waktu transit satu jam membuatku lega masih bisa mendirikan sholat dhuha. Horeeee.

Baru di awal rakaat sholat dhuha…..

 “Para Penumpang Pesawat Rajawali air dengan nomor penerbangan JI 123 tujuan Apur dipersilahkan naik ke pesawat”

Deg!  grogi, panik menyerangku plus rasa bersalah yang teramat sangat karena nggak khusyu’ sholat. Namun tetap kuteruskan sholat dhuhaku. Alhamdulillah selesai sholat langsung ambil langkah seribu. Jantungku ngos-ngosan. Ini sudah panggilan ketiga.

Mana pake acara salah jalan pintu masuk lagi. Untungnya ketemu penumpang yang senasib dan… hup! Bisa juga masuk pesawat lagi, kagak jadi ketinggalan deh. Alhamdulillah banget.

Tahukah kawan, apa yang kurasa bila memulai hari sebelum jam tujuh pagi? Kegelisahan menderaku lumayan gencar. Kekhawatiran tidak dapat melaksanakan sholat dhuha membuatku sedikit lemas menjalani hari. Namun ketika kita memiliki komitmen untuk itu, ternyata Allah akan selalu memberikan jalan untuk kita. Peristiwa hampir tertinggal pesawat kemaren membuatku makin mantap untuk istiqomah menjaga sholat dhuhaku.

Masuk ke topik sang pangeran. Bila mengingat proses ta’arufku, rasanya deg-deg ser! Dia yang berada di pelosok nan jauh di mata, sedangkan aku mendamparkan diri di ujung pelosok negriku. Cukup lama nggak kontak, kadang membuatku lupa sedang berta’aruf. Dan begitu terharu saat sadar ternyata proses itu masih terus berlanjut. Bila dilogika, kok ya susah banget masuknya. Dia yang lagi sibuk-sibuknya mencari segepok berlian di kota sebrang dipertemukan denganku yang saat itu sedang menghitung hari-hari terakhir di kota pelajar. Takjub banget dah sama campur tangan dan kuasa Allah.

Bukankah waktu di sepertiga malam terakhir termasuk salah satu waktu terbaik untuk memohon kepasa sang Maha pengabul setiap doa? Bukankah seorang pangeran (seorang permaisuri-bagi cowok-) adalah salah satu rezki dari Allah? Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa sholat dhuha merupakan salah satu ikhtiar mendatangkan kucuran rezki tiada terkira dan tak terduga.

Bisa ditebak ya? Yup, MANTRA (MANuver Top & Riil/nyAta) ketiga dan keempat adalah SHOLAT TAHAJUD dan SHOLAT DHUHA.

       

MANTRA Berbuah CINTA # 3

ayoooo intip lanjutan rajutan drama hidup si Aya.
Part-3

Seorang dosenku pernah memberi wejangan “untuk memulai sesuatu itu memang susah namun lebih susah lagi mempertahankan apa yang telah kita raih”.
Pertanyaannya apakah yang telah kuraih selama puluhan tahun menjadi penghuni bumi? pfff.. yang masih bingung menjawab_termasuk aku_yuk berbenah mengevaluasi lagi mimpi kita dan progress-nya.

Satu tahun delapan bulan sudah aku berperan di sebuah apotek di kota gudeg, tanpa menyempatkan pulang ke tanah kelahiranku setelah selesai sekolah. Sebelum nyemplung dalam apotek ada pergolakan batin yang amat hebat dan membutuhkan waktu tidak sebentar, kalo tak salah sekitar seminggu aku sholat istikharah untuk memutuskan apakah menerima tawaran untuk berkarya di apotek atau tidak.

Badai dalam hati dan fikiranku merupakan buah dari PKL (praktek kerja lapangan) ku di sebuah apotek beberapa bulan sebelum aku lulus. Ada kenangan pahit yang membuatku sempat berbisik dalam hati bahwa aku tidak akan pernah melamar untuk bekerja di apotek!! Namun skenario-Nya siapa yang sangka.

Saat itu aku sangat bingung. Kakak pertamaku mengabari lewat sms kalo Ibu sakit, pusing dan nggak enak badan. Aku ngerti jika beban pikiran Ibuku masih banyak. Aku belum bisa mandiri, kerjaan belum tetap, adikku pun belum selesai kuliah.

Ibu berharap tinggal mengurusi si bungsu saja coz sebentar lagi Ibu pensiun. Ya Rabb…. Apakah aku begitu egois mempertahankan mimpiku? Aku masih bermimpi ingin berkarya di dunia industri farmasi namun yang hadir adalah dunia apotek. Kemarin aku dilamar untuk menjadi Apoteker pendamping di apotek Cantik Farma.

Aku masih merindukan dunia industri farmasi. Entah kenapa aku jatuh cinta pada industri farmasi. Bukankah tak selalu jatuh cinta membutuhkan alasan dan penjelasan yg logis. Tapi aku tak kuat memegang mimpiku jika mempertaruhkan kebahagiaan kedua orang tuaku. Aku harus gimana??…..

Wahai penggenggam jiwaku, desainer mimpiku, aku mohon dengan sangat petunjuk_Mu…..
Aku pasrah dan manut dengan keputusan_Mu, terserah Allah saja, aku harus melangkah dan memutuskan apa?..

Fase keputusan

Bintang dahsyat menggetarkan
menyedot rasa kagumku
pesonanya menjalari aliran darahku
menerbitkan harapan nan indah
kemilaunya menahan langkahku melihat sosok kelamnya

hatiku condong padanya
hasratku merengkuh & menaklukkannya
kebanggaan sebagai mahluk sempurna
membutakan segala petunjuk

Berjalan menyusuri lika-likunya
Tak jua ku sampai diujung
Tak diduga tak disangka
Hadir penawaran yang rumit

Bintang baru di langit yang sama
kembar indah dengan bintangku
saat ini ia lebih pasti
hangat cahayanya dapat kurasa

Mempertahankan mimpiku
Bagai mengenggam keegoisan tak berujung
Menyimpannya sementara waktu
Memicu gemuruh ketakrelaan

Remang-remang tak berwujud
Tak dapat ku terka
Tak dapat ku prediksi
Hingga detik ini
Ketuk palu belum dapat ku tunaikan

Allah tolong beriku petunjuk
Aku pasrah pada_Mu
Aku ikut skenario_Mu
Tapi ku mohon izinkan ku menggapai bintangku
Walau hanya sesaat
Walau menunggu sekian lama

Setelah menimbang, memilah, menggodok (apa coba yang digodog??..) akhirnya kuputuskan menerima tawaran tersebut. Satu hal aku tak boleh egois dalam mengambil keputusan. Mengingat harapan setiap orang tua terhadap putra-putrinya yang baru lulus sekolah. Bisa dibayangkan dong gimana awal-awal bekerja di tempat yang aku tak suka (awalnya). Namun perjalanan waktu membalikkan perasaanku terhadapnya.

Tim yang kompak plus kekeluargaan yang kental di sana membuatku mulai betah dan menikmati pekerjaanku. Aku banyak belajar bagaimana manajemen di apotek, berinteraksi dengan pasien, memahami keinginan mereka, mendengar curhat mereka_yang sering membuatku banyak bersyukur, sering-seringlah melihat ke bawah maka akan kau dapati begitu sempurna hidupmu atas limpahan nikmat dari-Nya.

Merasakan diri ini diburu dan dicari pasien, betapa bahagianya bisa bermanfaat bagi sesama. Tak jarang pasien yang datang hanya ingin konsultasi dan curhat. Apotek kami memang sedang belajar menerapkan idealisme yang selayaknya diterapkan oleh setiap rumah obat alias apotek, ‘No Pharmasict No Service’. Jika kawan berkunjung ke apotek, bolehlah say hello dengan apotekernya, berkonsultasi terlebih dahulu jika memang ada keraguan dalam hatimu terkait obat-obatan. Karena itulah salah satu fungsi para apoteker.

Lambat laun aku pun sangat bersyukur dengan keputusanku berperan di sini. Limpahan ilmu, persahabatan yang tulus mengalir deras di sini. Allah memang Maha Tahu yang terbaik untuk kita. Apa yang menurut kita tidak baik, belum tentu juga tidak baik menurut Allah. So apapun keputusan-Nya, cobalah melihat ke depan dan yakin itulah yang terbaik untuk kita_bukan berarti pasrah dalam hidup yaa.

Sekarang setelah satu tahun delapan bulan berkarya di apotek, ada hal besar yang cukup mengganggu pikiranku yaitu kapan pulang ke kota di mana orang tuaku tinggal. Memutuskan hal ini tak segampang membalikkan telapak tangan kawan. Menyadari diriku berada di lingkungan kerja dan tempat tinggal yang super duper nyaman. Namun keinginan untuk pulang begitu kuat, selagi masih ada waktu aku ingin lebih dekat dengan orang tuaku.

Keputusanku disambut gembira oleh Ibu dan Bapak. Tiket serta persiapan yang lain sudah oke. Walau pertanyaan “ntar di sana aku bakal kerja di mana ya??..” tak jarang menghinggapi pikiranku namun segera ku tepis dengan meningkatkan keyakinan akan pertolongan-Nya. Dia tidak akan menyia-nyiakan setiap hamba-Nya yang memiliki niat tak buruk.

Sebenarnya ada keinginan yang sangat ingin kutunaikan sebelum pulang kampung. Mumpung masih punya duit sendiri (sebelum besok kembali ke pondok orang tua permai). Aku pengen sedekah dalam jumlah yang lumayan. Tapi.. kebimbangan menghampiriku karena saat itu ada beberapa barang yang juga ingin kubeli. Yang pasti bila aku tetep sedekah, aku bakal langsung terserang kangker (kantong kering). Gimana dong??.. tapi kalo aku menundanya, aku khawatir tak ada kesempatan kedua. Pertempuran batin antara keinginan dunia yang wah namun sesaat dengan keinginan menabung untuk rumah masa depan (alam akhirat).
Setelah dianalisis SWOT (nggaya ne rek!) akhirnya kubulatkan tekad mengirim sedekahku tersebut ke salah satu yayasan. Walau pun setelahnya kudu hidup prihatin beberapa saat. Hihi…
Ternyata kedua amalku itu (niat berbakti kepada orang tua & sedekah) bekerja & berefek cepat kawan.

“Dibutuhkan Apoteker untuk PBF (Pedagang Besar Farmasi) ABC, bila berminat segera kirimkan lamaran ke sini” sms dari teman sejawatku yang juga merupakan adek ipar temen kantor Ibuku. Kabar akan pulangnya diriku tersiar ke telinga beberapa teman kantor Ibu (mungkin saking senengnya anak gadisnya akhirnya mau pulang juga). Nah berita itu sampai juga ke temen kantor Ibu yang mempunyai adik ipar seorang Apoteker. Aku pun sampai sekarang belum pernah bertemu langsung dengan teman baruku itu. Unik dan menakjubkan ya skenario Allah.

Awalnya info tersebut tak begitu ku hiraukan karena aku tak terlalu tertarik bekerja di PBF. Pemilih banget ya? ah, nggak juga. Aku seneng kok ngelihat teman-teman sesama apoteker yang berkarya di PBF, industri obat (ini seneng banget en pengeen), industri jamu, apotek, Rumah sakit, klinik kecantikan, badan pemerintah (Dinkes, Depkes, BPOM) dan sederet tempat untuk berkarya lainnya. Tiap tempat mempunyai keunikan dan kenikmatan yang khas. Kembali ke laptop.

Namun dengan seringnya orang tuaku bertanya sudah mengirimkan lamaran ke PBF ABC tersebut atau belum, membuatku luluh dan nggak tega mengecewakan mereka. Akhirnya kukirimkan juga lamaran tersebut.
Tak berapa lama ada respon positif. Aku diminta untuk segera bekerja di sana, padahal posisiku masih di Yogya, sekitar 1-2 minggu sebelum hari H pulang kampung. Ealah niat kerja nggak sih??… Niat dong, cuma pengen menikmati dulu waktu-waktu terakhir di pulau jawa dengan berlibur ke rumah temen dan sodara di kota tetangga Yogya.

Surprise kedua datang dari guru mengajiku yang mengabari ada seorang ikhwan (lelaki) yang hendak berta’aruf (berkenalan) denganku. Deg! Hatiku mulai bermaraton ria. Sholat istikharah pun berlangsung untuk menetapkan hati apakah menerima proses ta’aruf ini atau tidak. Berita ini kuterima saat masih berlibur di rumah sodara.

Tapi saat aku pulang dari rumah sodara, waktunya sudah mepet dengan jadwal pulang kampung. Tak ada waktu lagi untuk bertemu walau sekali. Aku pun disarankan untuk memundurkan jadwal keberangkatan langsung ke kantor pusat maskapai penerbangan yang kupakai. Jantungku langsung ikut lomba lari jarak jauh saat kuseret motorku menuju kantor tersebut. Hawa sejuk kantor lumayan menenangkan deburan jantungku. Tapi aku malah lemes saat jawaban pertama si mbak petugas,

“itu tergantung masih ada seat yang kosong nggak mbak, maunya diundur berapa hari?” tanya mbak petugas.
“mm.. lima hari mbak, bisa nggak?” dag-dig-dug-dueerrr irama jantungku.
“saya cek dulu ya”

Tak lama menunggu “oh masih ada seat kosong mbak, jadi diundur ya? saya print kan tiket yang baru dulu, bisa ditunggu sebentar” sambil mempersilahkan aku duduk di bangku sofa ruang tunggu.
“iya mbak” jawabku teramat sangat lega (lomba lari jarak jauh selesai, lumayan olah raga jantung).

“eh tapi nambah biaya tiket nggak mbak?” aku harap-harap cemas, secara lagi bokek.
“nggak mbak, tapi kalo lewat dari lima hari sudah kena cash”
Oh Allah makasih banyak, Alhamdulillah. Lumayan banget bisa mundur beberapa hari tanpa kena cash tambahan. Alhamdulillah berikutnya akhirnya proses perkenalan pertama kali secara tatap muka pun berjalan lancar bebas hambatan. Serasa di jalan tol deh.

“Nikmat mana lagi yang kamu dustakan?” begitu bunyi salah satu ayat surat Ar Rahman. Belum juga ku injakkan kaki di kotaku, aku sudah mendapatkan tempat kerja dengan penghasilan yang bisa ku nego sesuai keinginanku_tentunya yang masih wajar menurut perusahaan plus jika Allah mengizinkan akan mendapatkan seorang pangeran.

Sebulan lebih sudah aku berkarya di PBF ABC tersebut dengan kawan-kawan yang luar biasa hebat. Serasa menemukan dunia baru berisikan orang-orang muda dengan semangat kerja yang tinggi, humoris, rasa kekeluargaan yang kental, pokoke mantab deh. Plus penghasilan yang berkali lipat saat ku di yogya.

Lagi-lagi dan lagi diingatkan Allah bahwa apa yang menurutku tak menarik belum tentu tak menarik menurut-Nya. Malah setelah dinikmati ternyata rasanya fantastis. So mantabkan langkah, perjelas mimpi kita dan yakinlah selalu akan pertolongan plus keajaiban dari-Nya. Karena Dia akan selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Asal keinginan kita masih berada di jalur-Nya. Hatur nuhun pisan ya Allah. 

Apa hayoo MANTRA (MANuver Top & Riil/nyAta) kita kali ini?..
Sini tak bisikin, MANTRA ketiga plus keempat adalah BERBAKTI KEPADA ORANG TUA dan SEDEKAH.

bersambung..

MANTRA Berbuah CINTA # 2

lanjut kisah si Aya yuuukkk.

Part 2

Gadis manis ini pun (maksudnya aku_narsis dikit boleh dong yaa) terkadang merasa waktu begitu berharga. Jadi aku berusaha sebisa mungkin jangan sampe semenit pun terlewat tanpa makna, tanpa manfaat. Siang itu sambil nyetrika baju, aku nyetel MP3. Sambil nyelam kelelep gitu loh, minum air. Tiba-tiba aku kaget mendengar penjelasan sang ustad:

kita sering memberi perintah pada Allah.” Kata ustad pemilik pesantren Darul Quran itu.

Emang perintah apaan??…  Aku membatin plus bingung sambil terus nyetrika.

Apakah perintah itu saat kita meminta Ya Allah berikan saya pekerjaan, Ya Allah berikan saya rezeki? Bukan dong, itu namanya doa, malah kita dianjurkan untuk banyak berdoa karena itu merupakan suatu kebutuhan. Perintah yang dimaksud adalah perintah –TUNGGU YA-. Saat adzan berkumandang, kita malah:

 ‘tunggu ya lagi kerja nih, nanggung’

tunggu ya lagi di depan costumer

tunggu ya lagi nerima tamu’

 ‘tunggu ya lagi di jalan tol’–udeh tahu Allah mau dateng kenape masuk tol??

“Masak iye ade presiden yang nungguin mentrinya dateng, di mane-mane yang namanya bawahan yang kudu nunggu atasan, eh ini kite malah seenaknya nyuruh Allah, pencipta kite untuk nungguin kite yang jelas-jelas ciptaan-Nya

Penjelasan panjang lebar ustad Yusuf Mansur itu menggemparkan nuraniku. Bermilyar (eh beberapa) tanya berkecamuk. ‘Tunggu ya lagi ada pasien’ (aku banget kah ini?… innalillahi…). Betapa ngeri membayangkan grafik ke-on time-an sholat lima waktuku yang terjun bebas.

 Aku tahu sholat paling baik adalah di awal waktu tapi aku nggak tahu kalo saat lagi molor sholat itu berarti aku sedang memberi perintah sama Allah untuk menungguku. Terkadang kesibukan membuatku susah (ato aku-nya saja yang suka bikin susah diri sendiri yaaa) untuk sholat tepat waktu. Nanggung, begitu alasan hatiku.

So bisa jadi dari kebiasaanku menjadi telater sholat membuat sang pangeran pun telat menjemputku. ‘Tunggu ya masih sibuk kerja nih’ begitu katanya kali yaaa. Astagfirullah, jangan sampe Ya Allah. Sejak itu aku berusaha untuk sebisa mungkin membenahi kualitas sholatku insya Allah. Namun menjaga niat mendirikan sholat harus tetep kujaga, sholat bukan karena ingin mendapatkan seorang pangeran (ato seorang permaisuri-bagi cowok-) tapi karena perintah Allah. Just Allah. Tidak lainnya.

Ini nih MANTRA (MANuver Top & Riil/nyAta) kedua, STW, alias SHOLAT TEPAT WAKTU.

bersambung..Image

MANTRA Berbuah CINTA # 1

Iiih pengen nikah deh…

Tapi.. gimana bisa nikah kalo nggak punya pacar???..

Hayuk tengok sepotong episode seorang Aya.

                              

# Part-1

Hai kawan, aku ingin menuturkan sepotong episode dalam hidup seseorang yang begitu dekat denganku. Panggil saja Aya.

Metode bercerita di sini menggunakan tehnik dengan sudut pandang aku. Oke. Mulai yuukk!

Oya kenalan singkat dulu. Panggil aku Aya. Boleh juga dipanjangin jadi ‘Ayaaaaaaaaaaaaaaaaa’ tapi pikir-pikir dulu deh ya kalo mao manggil panjang gitu coz khawatir satu kampung bakal keluar semua denger suara cemprengmu yang cetar membahana. Hihi.. pizz yaaa. Aku seorang Apoteker muda yang lagi mengabdi di sebuah apotek cantik nan unik.

Bila melihat pasien yang datang ke apotek. Ibu muda bersama jagoan kecil atau Bidadari manisnya, hatiku didera getaran halus yang begitu menggigit. Kebahagiaan terpancar indah dari kebersamaan dan canda tawa mereka. Iri yang positif kan sahabat?… semoga.

Apalagi bila sedang ditelpon Ibu tercinta. Pertanyaan yang jarang absen keluar dari bibir manis Ibuku itu, “Gimana Ya, kapan Ibu dikenalin? Masak Ibu nggak dikenal-kenalin? Ibu kan udah pengen lihat Aya nikah..” begitulah kurang lebih pertanyaan yang sering membuat hatiku bergetar, yang baru mampu kujawab dengan tawa kecil pengalih perhatian dan jawaban “nanti ya Bu insya Allah Aya kenalin kalo udah waktunya” walaupun dalam hati aku pun tak tahu, kapan waktu itu tiba.

Keinginan itu terkadang memunculkan tanya dalam hatiku, apa aku udah benar-benar SIAP untuk menikah?.. atau baru SEKEDAR INGIN karena melihat satu per satu teman-temanku melepas masa lajangnya?.. sudah seberapa banyak bekalku menuju kehidupan rumah tangga?..

Gencaran senjata eh gencaran doa pun segera kulakukan. Tak lama berselang,  aku merasa doaku mulai dikabulkan Allah. Satu persatu pemuda datang, ada yang datang sendiri dan beberapa lewat temannya (efek samping bergaul/silaturahmi). Tapi.. ketika ada yang datang, kenapa aku malah dihantui perasaan takut dan gentar menghadapinya, apakah ini sinyal, belum siapnya diriku?.. maka bisa diduga, jawaban yang kuberikan adalah negatif. Muncul rasa bersalah kepada-Nya, aku meminta dengan sangat tapi ketika Allah menghadirkannya, aku malah mundur. Hmm… masih payah ni mental nikahku. Astagfirullah.

Berburu ilmu ke arah ‘sana’ pun mulai rutin kujalankan. Wejangan ustad Yusuf Mansur dan Ippho Santosa cukup menggerakkan diriku untuk mengikuti jejak mereka, walau tak seutuhnya. Paling tidak beberapa cipratan aksi positif mereka dapat kutiru. Rasanya… luarr biasa.

Inilah MANTRA (MANuver Top & Riil/nyAta) berbuah CINTA yang pertama: BERDOA, me-MINTA sama ALLAH, pemilik cinta sejati.

 

bersambung..

Pertama Bukan Pertama

Pandangan pertama…
Pudar
Suram
Meredupkan angan tuk mendekatinya
Memenjara jemari tuk menjamahnya

Kenangan pertama…
Menoreh luka
Mengoyak mimpi
Membumi hanguskan padang bunga
Selaksa menjelma lautan abu

Azzam pertama…
Menutup sejarah tentangnya
Mencuci tangan darinya
Menghapus memori kenangannya

Takdir pertama_Nya
Mengguncang mimpiku
Menyibak kelam yang lalu
Membuncah gelisah
Menerbit dilema

Sang waktu tak pernah rehat
Kuikuti alur sepoian angin
Berteman gemuruh perang impian
Tak melawan aliran sungai
Mengantarku pada samudra hikmah

Kala mendung berkawan pelangi
Saat kuncup berestafet mekar
Pesona mawar menyuguh kasturi

Labuhan Tanya

Ingin kugapai sang mentari
Untuk kuserap hangat sinarnya
Untuk kujelajah biografinya
Agar kutiru ketangguhannya

Namun ku diberi sang rembulan
Hati bertanya tanda tak puas
Jiwa berontak seolah tak rela

Kesadaran ku terguncang
Kala angin datang membawa kabar
tuk menelaah lebih dalam kualitas diri
Benar telah siapkah ku menggapai sang mentari?
Telah kuatkah kulitku menyerap sinarnya?
ataukah akan melepuh?
Telah kuatkah jiwaku menghadapi kegarangannya?
ataukah masih rapuh bersimbah luka?

Malam hadir
tuk menyiapkan diri menuju pagi
Rembulan datang
tuk menguatkan diri menyongsong mentari

Kala mimpi itu belum ditangan
Tak berarti ia takkan tergapai
Yakinkan diri bahwa segala yang hadir
adalah bekal tuk menuju mimpi ku

Mengumpul energi dari berbagai penjuru
Sekuat tenaga membuka hati
Tuk menerima semua yang hadir
Walau hati dan ingin belum sejalan
Walau tumpah segala gundah gulana
Walau pecah bendungan air mata

Rasa yang Fantastis!

Keengganan menguasai segenap hasratku
Didukung kemalasan yang hadir tanpa diundang
Berharap tak menemukannya
namun terbersit cemas
Sampai kapan terus menghindar…

Rintihan nurani tuk melepas beban itu
Tak sanggup kutolak
Perlahan namun pasti
Pemilik jiwaku membuka celah-celah harapan

Semangat pun terbit
Harapan berkobar dahsyat
Keceriaan mengiringi irama denyut nadiku
Walau tersisa secuil cemas
Bekal kepercayaan pada_Nya berefek sistemik
Serasa seluruh mahluk mendapat titah dari_Nya
Tuk mengokohkan pendirianku

Tunduk pasrahku pada_Nya
Plus mantapnya keyakinan
Menarik musim tuk berbunga saat ini
Kejutan dari_Nya mengharu biru
Tak serumit yang difikir
Lebih indah dari yang diharap

NB: Zemangaaaaaat!!… ^-*

Gejolak jiwa tak bertepi…

Entah berapa trilyun detik q yang telah lewat…
Entah berapa kebaikan yang tlah q lakukan dengan tulus….
Entah seberapa tingginya dosa telah tercetak dengan sadar atau pun tidak…

Nilai ujian jelek masih ada ujian ulang or semester pendek
Barang rusak masih ada peluang tuk di servis ulang
Namun saat hari pengadilan_Nya tiba, adakah kesempatan tuk mengulang yang telah lalu?….

Waktu begitu terasa berharga saat dikejar deadline
Berefek tuk berusaha melakukan yang terbaik en sesempurna mungkin….
Namun adakah yang kan memberitahu kapan deadline ajal bakal datang menjemput q?…
Mumpung nafas ini masih gratis
Mumpung masih hidup di dunia ini
Mumpung masih sehat en muda
Berusaha mendesain masa depan dunia en akhirat sebaik mungkin…
Dunia yang mempesona ini hanya sekejap mata, sedangkan….
Akhirat yang begitu terjal menuju kemuliaannya begitu curam en perih namun manis madunya begitu abadi… tak sadarkah atau tak mau sadar?….

jangan cengeng dengan perih yg terasa organ tubuhmu!
Jangan mengeluh dengan rumitnya perjalanan menuju puncak kualitas diri di jalan_Nya.!
Jangan cemberut menghadapi lika-liku skenario hidup ini!
Jangan lemes dengan segala hal yg menurunkan kekuatan dirimu!
Teruzlah berjuang sampai habiz waktumu di sini!
Karena kesempatan dari setiap detik hidupmu yg tlah berlalu tak dapat dipanggil kembali walau sekejap!
Jangan silau en terlena dengan madu en bunga palsu yg menghampirimu!
Ingat selalu visi adanya aq di sini… di dunia…. en orang tua q yg selalu berharap yg terbaik tuk diri q…..!!

aq bukanlah kata-kata q, namun….
aq adalah apa yang q lakukan….
Planing sesempurna apapun tak bernilai jika tak direalisasikan…
tak penting siapa yang berbicara or menulis…
Tapi lihatlah apa kata-katanya yg sarat manfaat, ambillah segera en buang jauh yang merupakan sampah kata-kata tak berguna….

Renungkanlah… jangan sekedar hayalan en kata!
Namun buktikan dengan sikap nyatamu!
Bismillah insya Allah bisa

Tak Selamanya Mendung itu Mendung

Cerahnya sang mentari pagi tak selaras dengan mendungnya jiwaku
Bertumpuknya nafsu tak jelas, seolah memadamkan nurani yang kian redup
Kenyataan yang tak sesuai harapan pun terjadi..
Penat itu makin menjadi
Sukarnya mengukir senyum untuk manusia lain

Ternyata..
Mendung itu berganti hujan lebat yang menyegarkan hati& fikir
Kenyataan yang berbalut topeng dingin itu terasa begitu manis sekarang
Semangat menjalari setiap aliran darah
Harapan tersulut, mengaktifkan sel-sel jiwa
Tak sampai puluhan menit berlalu…
Hujan itu membawa pesan kehidupan dari Ilahi untuk taman bunga yang begitu gersang
Kuncup-kuncup itu bermekaran, menampakkan jelas indah kelopaknya
Syukurku atas kuasa_Nya menyingkirkan penatnya jiwa

Open your mind, open your heart
Hidup yang rumit karena rumitnya fikiran
Hidup yang indah karena lapangnya jiwa
Kenapa tak meluaskan jiwa tuk menyongsong setiap kejutan dalam fase kehidupan qta dari_Nya?…