Pelihara Si Nunda, Berbuah Derita

Ada yang agak sesak dalam hatiku. Bermula dari tadi pagi aku mencuci baju dengan agak terburu-buru karena mau nebeng Pita ke kampusnya yang sebelumnya mampir dulu ke AHAS untuk nyervis motorku. Alhamdulillah dalam kemepetan waktu tadi aku masih bisa mandi dulu. Masak tuan putri keluar istana kagak mandi, apa kata dunia??.. hihi..

Sampai di AHAS, belum ada satu pun motor yang datang tuk diservis, kondisi masih sepi dan beberapa teknisi terlihat berkumpul, tak boleh ku berfikir mereka ngerumpi, mungkin itu apel pagi ala tehnisi motor di AHAS kali ya. Dengan sigap seorang teknisi menghampiri ku.

“mau diservis mba?” Tanyanya.
“iya” jawabku.
Tanpa dikomando, tehnisi itu membawa masuk motorku dan segera mengeceknya.

Saat aku hendak pergi, karena aku memang berencana tak menunggu motor ku diservis. Banyak yang harus ku lakukan di kos.
“sebentar mbak, ini ada masalah di kampas belakang sudah aus, lampu depan mati satu, lampu belakang mati satu juga”

“memang kalo ganti semua jadi berapa mas?”
Mas tehnisi memberi isyarat supaya aku menuju kasir.

“ganti kampas belakang plus biaya pasang, lampu depan satu, lampu belakang satu, biaya servis, dipotong sepuluh persen jadinya 267.500 mba. Gimana?” Mba kasir menjelaskan.

“waaah, mahal banget mba… itu harus diganti semua?”
“ato lampunya nggak usah dulu, kan lampu satu lagi masih hidup jadinya 15.000 total….” Mbak kasir memberi pilihan.
Tidak berkurang banyak, batinku.

“ya udah mbak ganti semua aja gak papa”

“tapi itu baru ngecek luar ya mbak, belum yang dalam” lanjut si mba saat aku hendak pergi.

“iya” kataku sambil keluar bangunan AHAS tersebut.

Perasaanku mulai gundah gulana. Salah ku juga sih lama amir kagak servis motor. Terus gimana ini??…. ya udahlah yang penting si motor sehat dulu aja. Kemudian melajulah aku dan pita ke kampus satu UAD. Pita kudu segera sampai karena jam mendekati pukul 09.30 a.m
Setelah mengantar pita aku mampir dulu ke Pamela 1 untuk beli pewangi baju. Di Pamela hape ku jerit beberapa kali.

“Mb ada tambahn sil ttup klep bocor. Hrga 12 rb. Ttup klep 1 rusak hrg 10rb. Filter aus. Hrga 16 rb.kl ganti semua ttl 310rb. Gmna mb?? AHAS KALISTA”

Mak teng! Teng! Makin nggak enak aja perasaanku, bagaimana hidupku ke depan. Uang makin menipis, tanggal masih lumayan muda. Pfff….. aku menarik napas panjang kemudian membalas

“sil tu2p klep en tu2p klep msg2 fungsinya utk apa ja mb??” mungkin pertanyaanku rada culun tapi aku benar2 blenk tentang begituan. Tak paham. Saat hendak bayar di kasir Pamela hapeku jerit lagi.
“tutup klep&sill nya harus gnti krn olinya member/bocor. Jd fungsinya biar olinya ndak bocor mb…”
“ya udah mb, ganti smua, ndak ada dskn lg mb?…” aku pasrah.
“ya nanti gampang lah mb. Tak bilangke sma si bos ya… he..he..” balasan si mbak AHAS.

Setelah bayar, aku segera tancap gas ngambil maem di tempat jual lotek Mamy, depan foto kopian Omega. Setelah bayar lotek kembali ada pesan masuk.

“mb ini brusan rantai ger dibuka. Laker gernya juga aus. Kl ndak dignti buat jln goyang2. Krna roda blkgnya kocak. Hrg laker ger 25rb. Gmna mb??”

Oh Ya Allah apa lagi ini, kenapa bertambah terus?… banyak banget yang harus diganti… banyak banget pengeluaran untuk motor ini… hiks… hiks.. pikiranku makin kalut.

Perjalanan menuju kos berasa tak menginjak tanah_ya iya lah wong kakiku di atas motor, jelas tak menyentuh tanah_pffff….
Ada apa ya?… ko jadi begini???… bukankah tak ada kejadian yang sia-sia dalam hidup ini?…
keteledoran, kemalasan, sikap menunda untuk menyervis motor membuatku membayar sangat mahal ganjarannya.

So apa akibatnya kalo aku melakukan hal yang sama dalam hidupku?? Masih suka teledor dan enggan memperbaiki diri, memelihara sikap malas dan menunda, bisa lebih hebat keparahan dan ganjaran yang ku terima.
Aku nggak mau ya Allah… tolong bantu hamba memperbaiki diri. Bantu hamba ya Allah.. tolong hamba ya Allah… Amin. Pintaku pada penguasa jagat raya.

no delay

Iklan

Betapa Sesuap Nasi itu tak selalu gampang direngkuh

GUBRAK!! PRANG!!!!!!!… Suara berisik itu mengusik kekhusyu’an doa kami setelah sholat shubuh berjamaah. Di mushola tinggal Ibu Alfian, Lili dan aku.

”suara apa itu” tanya ibu sambil bangkit dan mengambil kunci pintu depan.

Aku dan Lili saling bertatapan dan menduga-duga

”sepertinya suara rak piring jatuh” dugaanku

Lalu kami bertiga keluar dan ternyata diluar pagar….

”ada apa pak?” tanya Ibu pada seorang bapak paruh baya

”gerobaknya terjungkal bu, bannya masuk lubang” jelas sang bapak yang ternyata berprofesi sebagai penjual nasi kucing/angkringan

”ya Allah, ini lubang gorong-gorong air yang tutupnya sudah raib…” kata Ibu menyelidik.

Di zaman ini, tutup gorong-gorong air pun begitu menggoda untuk diambil paksa, sudah seberapa parahkah tingkat kemiskinan bangsa ini??.. Dimana aplikasi UUD yang menyatakan bahwa ’orang miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara’. Malah yang terlihat fenomena pendididikan tak langsung dari negara agar warga negaranya mengoptimalkan kreatifitasnya demi mempertahankan hidup dengan menghalalkan segala cara demi kebutuhan perut yang susah dikompromi.

”bapak baru mau jualan ato sudah pulang?” tanya Ibu

Aku dan Lili masuk ke dalam mengambil sesuatu yang bisa digunakan sebagai tanda bahaya, aku ambil kertas, lakban dan spidol. Lili mengambil rak kecil bekas parcel lebaran.

”ada apa mbak?” tanya Dewo’ yang ternyata juga mendengar suara berisik tadi, diikuti Kiki dan Fitri, personil kos Jasmine lainnya, kos-an putri muslim yang berada sekitar 500 m ke selatan dari kampus.

”itu, ada bapak angkringan yang gerobaknya terjungkal coz bannya masuk lubang gorong-gorong air” jelasku sambil menuju depan.

Alhamdulillah gerobak itu sudah dibangunkan lagi, dibantu seorang bapak bersepeda motor yang lewat. Jadilah kami beraksi membuat tanda peringatan bahaya ’AWAS! ADA LUBANG!’ sambil menemani bapak angkringan membereskan gerobaknya.

”ada yang pecah pak?” tanya kukhawatir sambil terus berkarya.

”ada mba, piring dan gelas sebagian pada pecah” jawabnya.

Paras kelelahan dengan mata sayu terpancar dari wajah sang bapak. Kerasnya tempaan hidup yang dijalaninya tergambar jelas dari raut mukanya dan tangannya yang kekar dan terlihat kuat.

”soalnya tadi saya agak ngantuk mba, jadi nggak lihat ada lubang” jelas sang bapak lagi

”wajar kok pak, lagian ini kan masih pagi, masih gelap” tanggapanku.

”makasih ya bu, mbak..saya pergi dulu”

”Mari pak, maaf kami nggak bisa banyak membantu” jawab kami bareng sambil menatap kepergian beliau, seorang kepala keluarga yang rela berkorban apa saja demi menjaga agar dapurnya tetap mengebul dan anak-anaknya tetap bisa sekolah.

”ada apa nih mbak, rame-rame?” suara bu Pur tetangga depan rumah.

“tadi ada gerobak angkringan yang terjungkal bu” jawab kami

Melihat kondisi jalan yang basah bekas tumpahan air dan es batu berceceran serta lubang menganga, sepertinya bu Pur mengerti apa yang telah terjadi.

”memang ya pencuri itu keterlaluan sekali!” geram bu Pur

“Bentar-bentar… tadi pagi sekitar jam 2 saya dengar suara keras banget, apa pas pencurinya lagi mencongkel tutup gorong-gorong ini ya?.. saya kira anak kos putra itu, habis mereka biasanya memang pulang pagi-pagi” lanjut beliau panjang kali lebar.

Kami manggut-manggut. Tidak lama kemudian Bu RT datang, dengan semangat 45 bu Pur menceritakan kejadian tadi dengan detail.

”wah ini bahaya sekali kalau tidak ditutup lagi” komentar bu RT

”iya bu makanya kami kasih tanda bahaya ini.”

”harus cepat lapor nih, supaya segera ditutup, khawatirnya ada yang ngebut dan nerobos lubang ini kan ngeri juga ya” sambung bu RT lagi.

Sang surya mulai nampak dengan malu-malu. Sinarnya membantu kami melihat ke dalam lubang gorong-gorong itu yang ternyata cukup dalam juga dan… ada uang receh di sana, mungkin uang bapak angkringan tadi yang jatuh… Allah Maha Adil pasti punya rencana khusus untuk bapak tadi dan Allah yakin bapak itu bisa melalui ujian ini. suara hatiku. Amin.

–Jasmine in memory, Yogya 07/11/2008–

Big Bosku Bijak euy!

Sore yang basah. Hujan yang tak lagi rintik masih enggan untuk berhenti. Sudah pukul 16.15 WIB namun Direktur kami belum juga muncul. Pergi entah ke mana. Padahal kami sudah sepakat untuk rapat  pk.16.00 WIB, Tya mulai duduk tak nyaman, mba Widya  mendesah nafas panjang, Dewi dan Yulis terlihat mengantuk, mbak Dipus menoton TV. Aku?? Menjadi pengamat, hehe..

             “tahu gini, aku tidur aja di kos” celetuk Dewi dengan suara khasnya yang mendebarkan hati dan telinga. hehe… pizz Wi.

            “nanti kalo sampe jam setengah lima direktur belum juga datang, Tya pulang aja” kata mba yuni yang merasa kasihan padanya karena Tya sudah nampak lelah, bekerja dari sebelum jam7 pagi tadi.

            Bener deh, sampe jam setengah lima Direktur belum juga datang, akhirnya Tya pulang. Pas jam setengah lima lewat sepuluh menit baru Direktur  datang. Rapat pun segera dimulai tanpa Tya dan tanpa Yulis Karena Yulis dapat jatah jaga apotek selama kami rapat.

            Tak begitu lama dari rapat dimulai Presiden Direktur pun datang. Beliau langsung masuk ke forum dan memberikan masukan atau lebih tepatnya wejangan yang inspiratif bagi kami semua. Presdir kami itu nampak begitu tenang dan bersahaja. Tutur katanya runut dengan bahasa yang mudah dicerna. Mungkin karena beliau berbicara pada kami menggunakan hati sehingga kami pun menangkap sinyal ketulusan itu.

            “Niat awal saya membuka sebuah usaha adalah melayani. Dalam bekerja kita tidak sekedar bekerja tapi BEKERJA dan BELAJAR. Dengan begitu kita bisa berkembang. Di awal-awal kita membuka usaha tidak untung tidak apa-apa,karena semua butuh proses tapi bagaimana kita bisa fokus pada konsumen. Saat kita melayani konsumen tidak mengapa kita memposisikan konsumen/pasien adalah raja/ratu sedangkan kita adalah pelayannya. Yang penting bagaimana pasien puas dengan pelayanan kita dan tak terfikir untuk melirik yang lain. Membuat pasien nyaman dan jatuh hati dengan pelayanan kita” presdir menjelaskan.

          “Berfikirlah yang besar jangan sampai pikiran kita dibebani oleh hal-hal kecil/tehnis yang sebenarnya bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Jangan sampai hal-hal kecil tersebut mengacaukan fokus kita pada konsumen/pasien. Kita harus berani menunjukkan diri kita dan bersaing dengan yang lain. Jangan bersembunyi di jalan sunyi yang membuat konsumen sulit menemukan kita” sambung beliau lagi.

             Kurang lebih begitulah pesan beliau pada kami. Alhamdulillah ya penantian cukup panjang menanti rapat ini berbuah manis melejitkan semangat untuk selalu menjadi yang terbaik dan memberikan manfaat untuk sesama.

Ayo-ayo-ayo Indonesia bisa,

Ayo-ayo-ayo kita pasti bisa.

Selamat BEKERJA dan BELAJAR 🙂

Menuju Puncak Cita

Bagaimana Jepang bisa menjadi negara sangat maju dengan keterbatasan sumber daya alam?? Mungkin alam mereka memang tidak sesubur, tidak semelimpah negara kita, negara zamrud khatulistiwa, namun sumber daya manusia mereka sungguh luar biasa.
Berikut ini adalah contoh sebagaimana yang diceritakan oleh doktor Taufik al-Wa’I hafizhahullahu. Ia mengatakan, ”pemerintah Jepang pada awal kebangkitannya mengirim sebuah delegasi pelajar ke Jerman. Demikian pula yang dilakukan oleh bangsa Arab. Hanya bedanya, delegasi Jepang pulang dengan membawa sesuatu yang dapat dipersembahkan bagi kemajuan bangsanya, sementara delegasi Arab pulang dengan tangan kosong. Apa sebabnya? Simak kisah berikut ini, kita akan tahu jawabannya.
Seorang mahasiswa berkebangsaan Jepang bernama Osahara yang dikirim oleh negaranya untuk melakukan studi di Jerman bercerita, “Seandainya aku mengikuti pesan-pesan dosenku warga Jerman tempat di mana aku dikirim untuk meneruskan studi di Universitas Hamburg, niscaya aku tidak mendapatkan apa-apa. Aku dikirim oleh pemerintahku untuk mempelajari dasar-dasar mekanika ilmiah. Aku memang ingin sekali mempelajarinya. Aku ingin tahu bagaimana bisa membuat sebuah motor kecil. Aku tahu setiap karya itu memiliki apa yang disebut model yang menjadi dasar semua karya.

Jika Anda ingin mengetahui bagaimana sebuah karya dibuat, Anda harus MENGUASAI semua rahasianya. Demi efisiensi, dosen-dosenku tidak membawa aku ke sebuah pabrik atau pusat latihan kerja, tetapi cukup memberiku sebuah buku untuk aku baca. Aku baca dan aku pelajari buku tersebut dengan TEKUN, sampai akhirnya aku berhasil mengetahui semua teorinya. Tetapi selain itu aku juga sering MEMPERHATIKAN sebuah motor, seakan-akan aku sedang mengisi sebuah teka-teki.
Pada suatu hari aku membaca iklan yang menawarkan motor-motor buatan Itali. Dengan membawa uang gajiku dari pemerintah, aku melihat ada sebuah produk motor yang memiliki kekuatan beberapa kali tenaga kuda. Harganya sama dengan besarnya seluruh gajiku. Tetapi aku tidak peduli. Aku kuras semua uang simpananku untuk membeli motor made in Itali tersebut yang bobotnya sangat berat sekali. Sesampai di kamar, aku letakkan benda itu di atas bantal. Aku mengamati-amatinya, seperti sedang mengamati sebuah mahkota yang terbuat dari mutiara. Aku berkata dalam batin, “Inilah rahasia kekuatan Eropa. Seandainya aku bisa membuat motor seperti ini, aku akan sanggup merubah sejarah Jepang.” Aku PERHATIKAN dengan SEKSAMA, benda ini terdiri dari beberapa komponen yang memiliki bentuk, berbagai karakter, unsur-unsur magnit, kabel-kabel jaringan, roda, gigi roda dan lain sebagainya. Seandainya aku lepas komponen-kompenen tersebut lalu aku berhasil menyusunnya kembali seperti semula, paling tidak satu langkah aku sudah bisa mengetahui rahasia model produk dari Eropa.

Selama tiga hari dengan TEKUN aku terus mengutak-atik motor produk Itali yang sudah aku lepaskan komponen-komponen tersebut. Dan dengan mencocokkan satu persatu dengan teori dan petunjuk buku-buku yang diberikan oleh para dosenku, akhirnya aku berhasil menyusunnya kembali seperti semula. Aku merasa puas Karena usahaku selama tiga hari berturut-turut yang hanya sempat makan satu kali sehari dan tidur hanya sebentar saja, ternyata membuahkan hasil.
Aku bawa berita keberhasilanku kepada pimpinan delegasi. Ia Nampak sangat gembira sekali. Ia memujiku dengan mengatakan, “Bagus sekali apa yang telah berhasil kamu lakukan ini. Sekarang aku akan mengujimu, aku akan membawakan untukmu sebuah motor yang sudah tak terpakai. Kamu lepaskan komponen-komponennya. Kamu temukan letak kerusakan-kerusakannya lalu kamu perbaiki, sampai motor itu bisa digunakan kembali.”
Untuk tugas berat itu aku diberi waktu selama sepuluh hari. Dalam waktu yang relatif singkat tersebut aku harus mengetahui kerusakan-kerusakan motor tersebut. Karena ada tiga komponennya yang sudah tidak bisa dipakai lagi, maka aku harus membuatnya sendiri dengan menggunakan alat palu dan kikir.
Setelah berhasil, ketua delegasi yang menjadi penasehat spiritualku mengatakan, “Sekarang kamu harus bisa membuat sendiri komponen-komponennya.” Untuk tugas ini aku lebih memilih untuk melakukan studi banding di pabrik-pabrik peleburan besi, peleburan tima, dan peleburan aluminium, dari pada menyiapkan tesis doktoral seperti yang disarankan oleh dosenku warga Jerman.

Aku lalu memutuskan mendekati seorang karyawan pabrik tersebut untuk menimba ilmu serta pengalamamn darinya. Kendati untuk itu aku HARUS RELA DIJADIKAN PELAYANNYA. Aku turuti semua perintahnya, seakan-akan ia seorang bos besar. Padahal di negeriku aku berasal dari keluarga Samurai. Tetapi demi masa depan Jepang aku rela melakukan segalanya. Selama sepuluh sampai lima belas jam sehari aku bekerja di pabrik itu. Malam harinya aku masih harus mendapat giliran jaga. Dan dalam waktu senggang itulah aku gunakan untuk TERUS BELAJAR SENDIRI.
Begitu Mikado pengusa Jepang mengetahui prestasiku, secara khusus ia mengirimi aku uang sebanyak lima ribu keping emas Inggris. Uang itu lalu aku pakai semuanya untuk membeli beberapa peralatan pabrik motor dan beberapa peralatan lainnya yang aku butuhkan, sehingga ketika akan pulang ke Jepang aku sudah tidak punya uang sama sekali. Bahkan semua gajiku habis tanpa ada yang tersisa sedikit pun.
Begitu tiba di Nagasaki, aku mendengar informasi bahwa Mikado ingin bertemu denganku. Tetapi aku tolak. Aku baru berhak bertemu dengannya setelah aku berhasil membuat motor sendiri. Dan untuk tugas berat itu aku menghabiskan waktu selama TUJUH TAHUN.
Pada suatu hari yang sangat mebahagiakan itu, bersama asistenku aku membawa sepuluh unit motor produk Jepang berbentuk potongan-potongan komponen. Kami bertemu dengan kaisar Mikado. Setelah saling memberi hormat, sambil tersenyum lebar ia berkata, “Ini lebih manis dari pada alunan musik yang biasa aku dengar. Inilah suara motor khas Jepang.”
Dengan demikian kami bangsa Jepang berhasil memiliki model yang menjadi rahasia kekuatan orang-orang Barat. Kami berhasil membawanya ke Jepang. Kami bawa kekuatan Eropa ke Jepang. Dan kami bawa Jepang ke Barat.
Seseorang yang pernah hidup satu asrama dengan para pelajar Jepang yang dikirim ke Amerika untuk tugas belajar mengatakan kesannya. “Kadang-kadang mereka betah berada di perpustakaan kampus hingga tengah malam. Bahkan ada salah seorang dari mereka yang tidak mau pulang, tetapi memilih tidur di kursi kelasnya sambil menunggu pelajaran hari berikutnya.”
Ustad Muhammad Ahmad ar-Rasyid hafizhahullah mengatakan,
“Pada suatu hari aku pernah menganjurkan kepada seorang mahasiswa Arab belajar secara privat dengan Ustadz Fuad Sarkin di kediamannya di Frankfrut. Tetapi ustadz Sarkin mensyaratkan, si mahasiswa harus mau belajar kepadanya minimal enam jam setiap hari. Ia tidak mau. Setelah itu Ustadz Sarkin memberi kabar kepadaku bahwa ada beberapa mahasiswa Jepang yang sedang belajar di lembaga pendidikannya. Mereka sedang menekuni tulisan-tulisan Arab. Mereka mau memenuhi syarat yang diajukan oleh Ustadz Sarkin. Coba, pikirkan.

Copy paste dari buku:
The Power of Idea, Meraih Cita-Cita dengan semangat membara karya M. Ahmad Ismail, Robbani Press (judul asli: Uluwwul Himmah, penerbit Daru Thayyibah al-Khadra’ Mekkah Mukaromah, 1422H/2001M, cetakan IX).
semoga kisah ini dapat melejitkan semangaaaatt kita.. ^-^

Ini baru kejutan kecil lho!..

Hujan masih enggan menuntaskan menurunkan airnya ke bumi walau magrib sudah kian dekat (apa hubungannya ya? Tak tahu juga, hehe.). Fera pun beranjak keluar apotek menghampiri motornya entah untuk ngapain dan tak lama setelah itu… BRAAKKK!!!
“apa itu Fer??” teriak ku tertahan.
“kecelakaan mbak, motor dengan sepeda” jawab Fera sambil berlari menuju TKP.
Aku pun segera ngibrit ke luar apotek. kerumunan orang begitu banyak mengerubungi korban, ternyata di depan TKP sedang ada acara arisan ibu-ibu. Korban pun sudah segera di bawa ke teras rumah tempat arisan berlangsung yang persis di depan TKP. Darah keluar tak sedikit. Aku Panik dan segera lari kembali ke apotek mengambil kapas, perban, gunting, Rivanol, & plester. Kemudian Mba Pipit dengan sigap walau agak takut-takut (atau Cuma perkiraanku saja) mengelap darah yang keluar dari kepala korban.

Aku?? Panik dan agak bingung mau ngapain lagi. Jujur aku agak ngeri untuk membersihkan darah korban. Untung ada mbak Pipit. Lalu para warga sepakat membawa segera bu Suratmi ke dokter Bambang, dokter terdekat.

Saat sudah di dalam becak mau ke dokter bambang. Tiba-tiba, DUK!! Sandal korban terjatuh keluar becak.
“mbak, ibunya kejang!” teriak si penabrak yang masih kelas satu SMA. Sebut saja Dekas(adek kelas satu SMA). Dekas hendak menemani korban ke tempat praktek dokter Bambang.
Aku dan winni berlari menengok ke dalam dan melihat korban setengah sadar dengan mata hampir putih semua.

Panik & bingung ku makin menjadi. Tak menunggu lama kami segera ambil langkah seribu menuju dokter Bambang secepat mungkin, berlari di tengah gerimis dengan sedikit mengganggu lalu lalang pengguna jalan raya. Begitu sampai di tempat praktek dokter Bambang, korban di cek kondisi kepala, mata, dan sebagainya. Dokter Bambang pun menyarankan segera dibawa ke Rumah Sakit Wirosaban. Rumah sakit terdekat.
Setelah menunggu sedikit lama taksi pun datang dan mengantar kami ke RS Wirosaban.

Deg! Ya Allah tolong selamatkan bu Suratmi… pasti beliau punya keluarga yang sangat menyayanginya… menunggu dan menantinya di rumah..
Rasa bersalah menyergapku karena aku duduk di bagian tengah mobil taksi sejenis Avansa itu sedangkan korban di bagian belakang tanpa kursi namun dipangku tetangga beliau yang sesaat setelah kejadian tadi lewat dan melihat korban ternyata adalah tetangganya. Aku pun tahu nama korban dari tetangganya ini. Beliau sengaja di bagian belakang agar posisi badan dan kaki bisa tetap lurus.

Begitu sampai di RS Wirosaban, korban segera dibersihkan kepalanya menggunakan cairan infuse (Na Cl) kemudian dokter memeriksa keadaan beliau baru kemudian di tensi. Setelah itu dokter kembali ke ruangannya.

“keluarga bu Suratmi” panggil dokter
“keluarga bu suratmi” panggil dokter lagi
“keluarga bu suratmi!”

Aku pun tersentak dan segera sadar kalo itu pangilan untukku,
“iya dok” jawabku sambil tergesa menuju bu dokter.

“begini ya, bu Suratmi itu mengalami hemato yaitu luka tapi masih di bagian luar kepala, sekarang di observasi dulu dengan oksigen selama satu jam dan nanti dilihat apakah ada mual/muntah/perkembangan apa. Walaupun luka luar tapi karena ini luka di kepala, dikhawatirkan mengarah ke cedera kepala ringan.” Kata dokter dengan detail.

“iya dok” jawabku tanda mengerti.

“tapi tadi bu Suratmi sempet kejang dok dan mengeluarkan darah cukup banyak” kataku agak menggebu masih dengan sisa-sisa panik.
“kejang kayak apa?” Tanya dokter tenang.
Aku jadi gugup ditanya begitu. Aku pun memanggil Dekas meminta dukungan kalo tadi dia juga melihat bu Suratmi kejang.

Jujur aku heran dan kagum, kok orang-orang ini begitu tenang menangani korban kecelakaan, mulai dari dr.Bambang tadi, terus resepsionis, perawat dan dokter ini. Apa karena aku baru sekali ini ya ikut mengantar korban kecelakaan?? Pfff… betapa deburan emosi sangat penting untuk dikontrol dalam kondisi segenting apa pun, tetap tenang dan berusaha berfikir jernih itu mutlak karena panik membuat kita susah mengambil keputusan yang tepat dan cenderung ceroboh.
Alhamdulillah beberapa hari setelah itu akhirnya bu Suratmi sudah boleh pulang. Semoga beliau segera pulih seperti sebelumnya. Amin Amin Amin.

Aku tak tahu apa yang bakal menimpaku esok, atau bahkan satu menit lagi dari sekarang pun masih misteri karena semua mutlak kuasa-Nya. Seperti bu Suratmi, beliau pun tak menyangka akan dapat ‘kejutan’ begitu, saat itu beliau lagi bertugas menghidupkan lampu-lampu penerang jalan (karena itu lah tugas beliau). Dalam kondisi hujan pun tak menyurutkan langkah beliau untuk bertugas. Bagaimana dengan ku dalam bertugas (bekerja)?..

Untuk itulah kita (manusia) diminta untuk selalu menyiapkan diri kala panggilan dari-Nya (kematian) datang.. apakah sudah siap diri ini?… sudah seberapa banyak bekal ku siapkan dalam rangka menyambut panggilanNya?..
just remember for us.. 🙂

Ada Ibu bertanya pada anaknya..

Sore yang mempesona memancarkan kilau keemasan. Detik-detik di mana sang surya mempersiapkan diri pulang ke peraduannya, berestafet dengan rembulan. Tak berapa lama, masuk dua orang pasien ke dalam apotek.

“kamu mau obat ato vitamin?” Tanya seorang Ibu kepada putra kecilnya yang terlihat sangat energik.

“sekek to” jawab si putra sambil berkeliling memandangi isi etalase dengan  cermat seolah sedang mencari sesuatu. Lalu ia kembali lagi ke arah Ibunya karena tak menemukan yang di carinya.

“kamu mau obat ato vitamin?” kembali sang Ibu bertanya. sepertinya putra sedikit pilek atau hampir batuk-pilek karena itu Ibunya memberi pilhan mau obat atau vitamin.

“gendong-gendong!” pinta sang putra.

Dalam gendongan ibunya, si putra mengedarkan pandangan menyusuri etalase atas berisi deretan vitamin-vitamin sirup sambil mengetuk-ngetuk dagunya seperti lagi berfikir keras.

“aku mau itu saja, seperti yang ada iklannya itu lho” putra menunjuk salah satu merek vitamin yang ada di etalase.

“yang ini saja ya, ini juga ada iklannnya” sang Ibu memberi pilihan lain.

“nggak mau, aku maunya yang itu, seperti yang di iklannya itu lho” ngotot putra.

“eh, ini juga juga ada iklannya, ada pilihan rasanya, ya, ya? Ada stroberi, jeruk, apel” bujuk Ibu. Sepertinya Ibu berharap nafsu makan putra juga bertambah dengan minum vitamin pilihannya karena memang pilihan vitamin Ibu ada penambah nafsu makan sedangkan pilihan putra tidak mengandung zat penambah nafsu makan.

“aku maunya yang itu!”

Perdebatan kecil itu pun berakhir dengan eksekusi pilihan pada vitamin pilihan Ibu.  Masih dengan rasa sedikit tak puas, putra pun turun dari gendongan Ibunya dan berjalan kembali mengitari etalase.

“aku mau itu” putra menunjuk ke arah deretan antiseptik cair.

“untuk apa?”

“untuk cuci tangan kayak di TV”

“ini aja ya, coklat aja” Ibu menunjuk coklat mungil-mungil seperti koin.

“nggak mau”

“ato ini aja permen mentos ato permen yang ini” beragam permen ditawarkan Ibu.

“aku maunya itu!” putra kukuh pada pilihanya.

Aku dan winni Cuma geleng-geleng sambil tersenyum bercampur takjub menyaksikan adegan unik itu..  sepertinya mbak Dipus yang melayani Ibu tersebut juga tak dapat menahan senyum..

kami seperti sedang menonton drama perdebatan kecil Ibu & anak, hal lumrah adalah anak-anak merengek minta permen ato coklat, ini merengek minta larutan antiseptik.

Putra pun mondar-mandir sambil menggerutu.

“ini bu belanjaanya, terima kasih” kataku sambil menyerahkan belanjaan.

“iya, sama-sama mbak”

“adek udah sekolah belum?” tanyaku sambil menatap putra.

“baru TK nol kecil mbak” kata si ibu sambil merapikan tas dan belanjaannnya.

“oh baru TK”

“iya mari mba” pamit si Ibu.

“aku mau itu..” kata putra lagi sambil menggerutu keluar apotek.

“sudah to, nanti tak tinggal” sang Ibu sedikit mengancam.

 

ketakjubanku pada si putra masih eggan hilang. Anak sekecil itu ternyata adalah pemerhati iklan di TV. Ketegasan kata-kata dan optimismenya menjatuhkan pilihan terlihat sangat dari pilihan kata dan gerak tubuhnya. Cerdas namun agak kurang sopan pada orang tuanya. Hmm… gimana pola pendidikan dari orang tuanya ya??…Sobat mau seperti apa anak kita kelak, ternyata bisa kita desain sejak dalam kandungan lho, karena proses mendesain kecerdasan anak dimulai sejak ia masih berupa janin. tengok note sebelumnya ya.. *Mendesain Kecerdasan* semoga bermanfaat.. ^-^

Nong jia cheng zhen

Siang itu mentari terasa begitu garang, semangat banget mencurahkan sinarnya ke bumi. Bisa dibilang ini adalah masa peralihan musim atau masa musim campuran antara hujan dan panas. Setelah sekian lama berpuasa hujan, akhirnya air dari langit pun turun, dengan sederas-derasnya. Menumpahkan kerinduan yang sangat setelah sekian lama tak menyapa tanah yogya. Namun bila si hujan rehat menumpahkan airnya ke bumi dan berganti panas, sungguh luar biasa garangnya sang mentari. Apa pun cuaca hari ini tetap harus disyukuri, begitulah ku paksa pikiranku berfikir bijak agar sikap ku pun ikutan bijak.

Walau sempat terserang malas yang hebat untuk beranjak keluar kos, akhirnya bisa juga ku usir keengganan itu, berangkat menuju puskesmas Umbul harjo dalam rangka mengurus surat sehat untuk pengambilan surat Visum Apoteker qu di dinkes propinsi DIY.

Yah, belum waktunya ternyata aq mengurus surat sehat hari ini karena puskesmas sudah tutup. Perkiraanku puskesmas beroperasi sampai jam 2 or jam 3, ini kan masih jam setengah 2??.. oh mungkin petugasnya lagi ada rapat, lagi2 pikiran positif yang ku paksakan plus sindiran untuk ku bahwa besok kudu lebih pagi datangnya (kena getahnya deh suka kesiangan! Hehe).

Akhirnya kulajukan motorku langsung ke markas IAI DIY di apotek UGM, sampai sana mba Tutik belum datang, namun mataku berbinar saat melihat sebuah majalah di kursi kafe apotek UGM. Bisa membunuh rasa bosanku nih menunggu mba Tutik. Aku pun melihat daftar isi majalah media AAM tersebut dan menjatuhkan pilihan pertamaku untuk membaca rubriK cakrawala tepat di halaman lima belas.

Antony Dio Martin menuliskan bahwa To be (menjadi) adalah hal yang sangat vital bagi kesuksesan pencapaian gol seseorang. To Be artinya anda mulai menempatkan diri, menciptakan sikap, dan keadaan seolah-olah anda telah mampu merasakan apa yang anda inginkan. Sebagai contoh, Tina ingin menurunkan berat badan. (deg! Kok aku merasa tersindir yaa..) Dari pada ia memaksa diri langsung olah raga, saya (Antony Dio Martin) meng-coach bagian To Be pada dirinya yang tampak langsing, sehat, & energik. Bahkan saya mengajaknya menggunakan sepatu olah raga dan baju bekas yang ukurannya lebih kecil yang muat kembali pada dirinya. Tina pun membayangkan dan menciptakan perasaan dan kondisi itu. Denagn demikian terasa sekali energinya yang luar biasa, sampai-sampai akhirnya Tina pun mengatakan “rasanya saya tak sabar lagi untuk segera berlari dilapangan”.

Lihatlah saat To Be kita telah dibangun maka To Do menjadi lebih mudah dilakukan.

Setelah menuliskan apa yang ingin anda capai (To Have) serta apa yang ingin anda lakukan (To Do), pikirkan pula identitas dan situasi pada diri anda yang mendukung tindakan tersebut. Bayangkan anda telah memiliki identitas dan situasi yang mendukung tindakan anda tersebut, kemudian mulailah melakukan situasi. Percayalah, hal ini kan lebih cepat mendekatkan diri anda pada tujuan dan cita-cita nada.

Tulisan Antony Dio Martin tersebut mengingatkanku pada cuplikan kalimat dalam buku 7 Keajaian Rezeki, yang berbunyi “Nong jia cheng zhen” artinya main-main jadi sungguhan, di buku tersebut Ippho Santosa menjelaskan bahwa salah satu yang mempercepat impian kita terwujud adalah membayangkan impian kita kemudian berpura-pura seolah-olah itu sedang terjadi. Teruslah berpura-pura sampai itu benar-benar terjadi.

                Well, apakah adrenalinmu sudah terpacu??.. bila kamu sudah punya Visi (To Have) dan Misi (To Do) so cobalah sensasi  efek dari To Be (menjadi) sebelum menjalankan To Do mu. JImage

Meneropong kecerdasan Orang yahudi

Kalau melihat era sekarang tak dapat dipungkiri bahwa banyak peraih nobel atau pun peneliti-peneliti yang merupakan orang yahudi. Bisnis mereka banyak menguasai pasar-pasar dunia. Melihat fenomena itu, terbersit tanya, mengapa orang yahudi rata-rata pintar?… ternyata itu bukan sebuah kebetulan, karena memang tak ada yang kebetulan di dunia ini. Ada proses panjang dan desain rapih yang mereka terapkan. Lebih lanjut bisa dilirik arikel dibawah ini:

Artikel yang ditulis oleh Dr Stephen ini berisi hal-hal yang menjadikan mengapa Bangsa Yahudi Pintar, tulisan ini dia tulis berdasarkan pengamatan langsung setelah berada kurang lebih 3 tahun di Israel dalam rangka menjalani Housemanship di beberapa Rumah Sakit disana.

Ketika tahun kedua dia tinggal di Israel, tepatnya akhir bulan Desember 1980 tiba tiba terlintas di benaknya beberapa pertanyaan yang cukup menggoda bagi dirinya, dalam benaknya di bertanya “Apa sebabnya Orang Yahudi itu begitu pintar?”, “Mengapa Tuhan memberi kelebihan kepada mereka?”, “Apakah ini suatu kebetulan?, atau hasil usaha dari mereka sendiri?”. Atas dasar pertanyaan yang mengganggu itu maka Dr. Stephen tergerak untuk membuat suatu tesis untuk jengjang Phd-nya. Yang pada kenyataannya ternyata tesis ini memakan waktu hampir delapan tahun dalam pembuatannya karena Dr. Stephen harus mengumpulkan data-data yang akurat & setepat mungkin.

Dr. Stephen menulis, dimulai dengan persiapan awal melahirkan bagi wanita-wanita Yahudi. Di Israel apabila setelah mengetahui sang ibu tengah mengandung maka si ibu ini akan sering bernyanyi dan bermain piano. Bahkan sang ibu beserta suaminya akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama sang suami. Hal ini membuat heran Dr. Stephen karena ada temanya yang sedang mengandung sering membawa buku matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan padanya. Hingga Dr. Stephen bertanya pada temannya tersebut “Apakah ini untuk anak kamu?” dan temannya menjawab “iya ini untuk anak saya yang masih ada di kandungan, saya sedang melatih otaknya, dan semoga ia menjadi orang yang jenius”. Sehingga hal ini membuat Dr. Stephen menjadi lebih tertarik untuk mengikuti perkembangannya. Tanpa mersa jenuh si ibu terus mengerjakan latihan matematika sampai genap dia melahirkan. Nah ternyata latihan otak semenjak bayi dalam kandungan itu begitu penting dalam rangka membuat kecerdasan dan IQ yang tinggi.

Hal lain yang diperhatikan oleh Dr, Stephen adalah cara makan orang-orang Yahudi. Sejak awal mengandung sang ibu suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Pada tengah hari makanan utamanya adalah roti dan ikan tanpa kepala, bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan. Menurut kepercayaan orang yahudi, daging ikan itu baik untuk perkembangan otak sementara kepala ikan mengandung kimia yang tidak baik dan dapat merusak perkembangan serta pertumbuhan otak anak di dalam kandungan. Hal ini sudah menjadi adat orang-orang Yahudi ketika calon ibu tengah mengandung, bahkan sudah menjadi kewajiban bagi mereka apabila sang ibu tengah mengandung harus mengkonsumsi pil minyak ikan. Baca lebih lanjut